• Sarjana Pendidikan, Harus Bisa!

    Gelar sarjana saat ini bukanlah menjadi sesuatu yang sangat membanggakan jika dilihat dari sisi kuantitas penyandang gelar tersebut. Lebih lagi jika gelar sarjana tersebut adalah Sarjana Pendidikan yang merupakan gelar sarjana yang termasuk sangat besar jumlah penyandangnya.

  • KEPENASARANAN INTELEKTUAL

    Ada yang menarik dari sambutan Mendiknas pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Dimunculkannya suatu gabungan kata yang sungguh sangat mendalam maknanya. Kepenasaran Intelektual, demikian gabungan kata yang dimaksud. Gabungan kata ini memiliki dua keunikan.

  • PARA LELAKI, BELAJARLAH DARI KARTINI

    Setiap kita memperingati Hari Kartni 21 April, maka yang terbayang adalah sosok wanita anggun, lemah lembut, taat pada suami, dan selalu bersemangat untuk kebangkitan kaumnya, para wanita. Saat ini, terkadang kita kesulitan menemukan wanita yang seperti itu lagi.

"MEMBUMIKAN BUMI"

Jumat, 24 April 2009 0 komentar


Memperingati Hari Bumi 22 April 2009
“MEMBUMIKAN BUMI”
Tatkala Tuhan menawarkan amanah untuk menjadi khalifah/pemimpin di muka bumi ini kepada yang bersedia, maka hanya makhluk bernama manusialah yang tampil untuk menyanggupinya. Lepas dari ketentuan Tuhan, bukti ini menunjukkan betapa rentannya manusia dengan sifat-sifat “ketergesa-gesaan” dan sifat-sifat “kecongkakan/bangga diri”. Nafsu untuk berkuasa pun sembari terus menggoda pikiran manusia yang selalu mau tampil beda dan menjadi yang paling hebat. Termasuk dalam mengatur bumi tempatnya berpijak untuk hidup, manusia menganggap dirinya akan mampu untuk menjalankan amanah tersebut dengan baik. Ternyata, fakta juga menyatakan bahwa justru manusialah yang membuat bumi menjadi “sengsara” seperti saat ini. Segala macam eksplorasi bumi yang berlebih-lebihan dilakukan manusia untuk kepentingannya sendiri, menjadikan bumi seakan menjadi “budaknya” manusia.

Seperti ungkapan yang menyebutkan “siapa menabur angin, akan menuai badai”, itulah yang terjadi akhir-akhir ini dalam kehidupan manusia pada umumnya di bumi ini. “Murka” bumi yang berwujud bencana alam, silih berganti terjadi di mana-mana. Di Indonesia, kita masih ingat lima belas, dua puluh tahun yang lalu, negeri ini sungguh seperti miniatur surga. Keindahan alam, kesuburan tanahnya, sumber daya alam yang melimpah, dan jarangnya terjadi bencana, adalah bentuk kenangan indah dari geografis atau bumi Republik ini. Namun, sekarang ini sepertinya hal itu semua sudah jauh. Bencana alam seakan tak ada hentinya di negara kita. Kata orang, bukan lagi bencana banjir yang dikhawatirkan, tetapi yang dirisaukan saat ini adalah banjir bencana. Belum lagi kita dapat bernafas lega pada satu bencana, muncul lagi bencana yang lain. Begitulah kenyataan yang terjadi pada negeri yang dulu mendapat gelar Zamrud Khatulistiwa ini.

Dalam kitab suci Al Qur’an sebenarnya telah ditegaskan bahwa bencana-bencana yang terjadi di muka bumi adalah karena ulah manusia sendiri. Amanah dalam mengurusi bumi ini ternyata sudah jauh dari tujuan semula. Manusia hanya berpikir instan dalam memperbaiki pola hidupnya, tanpa memikirkan jangka panjangnya. Jika ditilik lebih mendalam ternyata bahwa pengelolaan bumi secara bijaksana berdampak terhadap kelanggengan hidup manusia dengan tentram dan nyaman. Jika kita berusaha menanami kembali hutan yang telah ditebang, bila kita tidak serakah mencari barang tambang di tempat-tempat konservasi, andai asap kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik tidak mencemari lingkungan, dan banyak lagi yang lainnya, tentu kondisi bumi kita tidak “berpenyakitan” seperti sekarang.

Pribadi-pribadi kita tak lepas dari tanggungjawab untuk memperbaiki kondisi bumi. Jangan menganggap satu orang dari milliaran manusia di muka bumi ini tidak ada artinya, tetapi gerakan untuk memperbaiki bumi nanti akan berarti jika dari pribadi-pribadi kita mau berbuat semampu kita dan selingkup kita saja. ‘Mulai dari sekarang dan mulai dari kita’, itulah motto yang harus selalu menjadi ingatan bagi kita untuk berbuat sekecil apapun itu untuk memperbaiki bumi. Membersihkan selokan di depan rumah, mengurangi penggunaan AC, menghemat listrik dan air, dan masih banyak hal-hal “kecil” yang tentu saja dapat dilakukan sendiri, tentu akan berdampak positif bagi perbaikan bumi ini. Jika setiap orang melakukan aktifitas perbaikan bumi seperti yang disebutkan tadi, maka gerakan untuk menjadikan bumi kembali merasakan kodratnya sebagai bumi, akan semakin nyata. Mari kita jadikan gerakan “Membumikan Bumi” adalah bagian menyeluruh dari sekian banyak aktifitas kita dalam sehari semalam. Tentu saja gerakan yang lebih besar dapat dilakukan pemerintah, seperti gerakan Go Green oleh Pemda Sul-Sel yang disambut antusias oleh Pemkot Parepare, terutama lagi Dinas Pendidikan Parepare yang mengharuskan sekolah-sekolah untuk melakukan penghijauan di lingkungan sekolahnya masing-masing. Suatu bentuk kepedulian yang aksinya dalam bentuk kebijakan, tentu akan semakin kuat.

Hari Bumi tahun ini digelar dengan semakin memprihatinkannya kondisi benua kutub yang semakin hari terus memperlihatkan pelelehan bongkahan es yang semakin besar. Global Warming yang menghantam bumi kita harus dicegah dengan serius. Jika tidak, maka bukan mustahil 20-50 tahun mendatang, banyak pulau-pulau termasuk Jakarta akan hilang karena terendam air laut. Peringatan Hari Bumi sebaiknya dijadikan momentum untuk melakukan perubahan secara sedikit demi sedikit terhadap pola aktifitas kita, dari yang tidak memikirkan bumi dalam melakukan sesuatu menjadi intens terhadap perbaikan bumi ke depan. Bumi bagaikan rumah besar kita, sehingga sangat wajar untuk terus menjaga kenyamanannya, tentu saja untuk kita juga. Siapapun kita, apapun profesi kita, semuanya bisa untuk berbuat demi kelangsungan hidup bumi kita yang sudah akut penyakitnya. Tak ada kata kecil atau sedikit jika kita mau berbuat, segera lakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Jika bukan kita yang rasakan, maka yakinlah bahwa anak cucu kita nantinya yang merasakannya. Bumi, bukan milik kita, tetapi pinjaman anak cucu kita. SEKIAN.

"Politik Keibuan" Kartini

Senin, 20 April 2009 0 komentar


Hari Kartini 21 April 2009
“Politik Keibuan” Kartini
Kesetaraan gender adalah menjadi sesuatu yang telah umum disuarakan pada era reformasi saat ini. Kesetaraan gender tidak hanya diperjuangkan oleh kaum hawa saja, tetapi juga kaum adam yang intens terhadap persamaan hak antara pria dan wanita. Konsep kesetaraan gender sebenarnya adalah juga mengarah pada hitung-hitungan peran (job) di semua lini pranata social, sehingga bagi sebagian orang bahkan dengan lugas mengatakan bahwa kesetaraan gender hubungannya dengan urusan “perut”. Tentu hal ini masih sangat memungkinkan untuk diperdebatkan, sehingga yang lebih mungkin untuk dijadikan bahan kajian adalah hal yang saat ini factual terjadi. Hebatnya dorongan untuk memajukan perempuan, yang diklaim oleh sebagian perempuan bahwa kaum mereka kurang diperdayakan oleh pemerintah, terus merambah sampai ke dunia politik.
Keterwakilan perempuan 30% di parlemen yang pernah menjadi andalan kaum feminis ini, ternyata harus direlakan untuk “layu sebelum berkembang” dengan keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi yang memutuskan anggota parlemen yang terpilih adalah menurut suara terbanyak. Namun, hal ini ternyata tidak membuat aktifis perempuan ‘patah arang’ untuk berperan di dunia ketidakpastian tersebut. Bersaing dengan kaum pria secara langsung lewat raihan suara saat Pemilu Legislatif kemarin, tentu saja terlihat lebih fair, dibandingkan dengan jatah-jatahan 30% tersebut. Meski keterwakilan perempuan sejak dulu memang ada, tetapi dianggap tidak signifikan jika dibanding dengan rasio perempuan yang lebih banyak dari laki-laki. Pemilu 2009 ini adalah awal “sepak terjang” politis perempuan dapat terlihat dengan sebenarnya. Bangsa Indonesia akan melihat pembuktian dari Kartini-kartini yang masuk ke parlemen, apakah mereka dapat memberikan kinerja yang maksimal sebagai wakil rakyat atau tidak.
Hari Kartini tahun ini mempunyai nuansa yang berbeda dengan dilangsungkannya Pemilu 2009. Kiprah “makhluk paling cantik” ini, di parlemen nantinya kita harapkan mempunyai ciri khas tersendiri. Sebagai perempuan, fitrah keibuan diharapkan menjadi cirinya. Sifat ibu adalah menjadi panutan bagi anak-anaknya dan juga pemberi nasehat. Parlemen kita saat ini dinodai oleh beberapa anggotanya yang mayoritas laki-laki itu, dengan prilaku korupsi. Kita bersyukur karena belum ada satupun anggota parlemen perempuan yang dinyatakan melakukan tindak kejahatan korupsi. Tentunya kita harapkan, bukan karena mereka sangat sedikit jumlahnya di parlemen (DPR/DPRD) sehingga tak ada yang terindikasi korupsi, tetapi memang karena fitrah keibuan merekalah yang menjadi benteng penghalang untuk berbuat hal yang masih “doyan” dilakukan sebagian anggota parlemen laki-laki tersebut.
“Berkubang” di dunia politik oleh para penerus Kartini saat ini sudah terlihat sangat gencar, bahkan sukar memutuskan siapa lebih unggul dalam berpolitik laki-laki atau perempuan. Jumlah perempuan sebagai anggota parlemen jadi, perempuan sebagai pimpinan partai politik, bahkan perempuan sebagai calon presiden pun saat ini tidak diragukan lagi kepiawaiannya. Tentunya semangat yang menyala-nyala ini jangan sampai menjadi euphoria yang berlebihan, sehingga melupakan kodrat keibuannya tadi. Kapan dan dimanapun perempuan itu berada harus selalu ingat bahwa mereka adalah ibu atau calon ibu. Tidak ada yang dapat memungkiri hal tersebut, bahwa mereka nantinya akan bersuami, melahirkan, menyusui/mengasuh anak-anaknya, dan sebagai ibu rumah tangga. Tuhan tidaklah menciptakan perempuan asal-asalan, dengan postur tubuh dan jiwa yang berbeda dengan lawan jenisnya, pria. Keutuhan manusia sebenarnya seperti dua sisi mata uang. Oleh karena itu, rivalitas kurang sehat antara laki-laki dan perempuan sebenarnya akan menghambat kemajuan manusia pada umumnya. Saling dukung dan saling bantu serta saling sharing, itulah yang diharapkan untuk melihat bangsa ini menjadi berkembang dan maju. Keeratan hubungan antara laki-laki dan perempuan, jangan pula menjadi “embrio” terjadinya penyimpangan-penyimpangan lainnya, yang juga akan berdampak negatif. Oleh karena itu, bergabungnya kartini-kartini ke parlemen dengan serius saat ini diharapkan akan memperbaiki kondisi yang rusak dan “amburadul” di parlemen kita. Kodrat keibuan harus menjadi ciri khas anggota parlemen perempuan, sehingga dapat meredam prilaku-prilaku semacam korupsi yang sering dilakukan kaum pria.
“Politik Keibuan” di DPR/DPRD semoga dapat kita rasakan mulai Pemilu 2009 ini. Kita tidak harapkan mendengar atau melihat kembali para anggota DPR/DPRD kita saling adu jotos, korupsi sendiri-sendiri atau korupsi berjamaah, melakukan prilaku asusila, atau yang berkomentar “kotor” dan tidak etis. Kita harapkan parlemen kita merupakan tempat yang sejuk, sesejuk mesin pendingin di gedung parlemen tersebut. Besar harapan kita pada para politikus kartini yang dapat member nuansa parlemen dengan “politik keibuannya” itu, semoga.
SEKIAN

NEGERI BALIHO

Sabtu, 04 April 2009 0 komentar


Negeri Baliho

Pesta demokrasi kembali digelar negeri ini. Perhelatan sekali dalam lima tahun ini sungguh menyita perhatian sebagian besar masyarakat. Mulai dari rakyat jelata yang tak mengerti sedikitpun tentang politik sampai pada para elite yang mengaku paham akan seluk beluk politik, meski besar kemungkinan mereka hanya menjadikan politik sebagai sarana pelarian profesi mencari ketenaran atau kekayaan semata dan tidak mustahil sebagian di antarnya hanya mengadu peruntungan semata.

Pemilu yang memakan biaya triliunan rupiah tersebut justru tak ada seorang pun yang dapat memastikan akan berdampak positif bagi negeri ini. Pasca pemilu nanti belum tentu ekonomi lebih membaik, belum tentu kemiskinan akan berkurang, dan belum tentu konflik horizontal mereda. Hal inilah yang membuat sebagian anak bangsa ini terus saja merasa pesimis terhadap pesta akbar ini. Namun, ada hal yang pasti terjadi dan telah kita rasakan bersama dalam situasi menjelang hari pencontrengan pemilu legislative dan akan berlanjut pada pemilu presidena nanti, yakni maraknya baliho. Baliho berukuran kecil, sedang, besar, sampai ukuran spektakuler menjadi “santapan mata” setiap saat dan hampir di seluruh pelosok dan sudut-sudut negeri ini. Daerah pedalaman sampai kota besar dan di antaranya penuh dengan baliho. Lorong-lorong dan gang-gang kecil pun penuh dengan baliho. Gambar dan tulisan di baliho pun beraneka ragam bentuk serta coraknya. Postur dan tampang calon legislative dengan pose yang dibuat-buat penuhi baliho-baliho itu. Dari wajah yang cantik tampan sampai berwajah muram sangar tak sulit ditemukan.

Baliho-baliho tersebut dipasang oleh caleg atau tim suksesnya dengan sangat serampangan. Pohon-pohon taman kota menjadi objek penderita tempat di pakunya baliho tersebut. Tiang-tiang listrik penuh dengan gambar manusia pengejar kursi empuk di dewan. Jembatan, rumah makan, tembok dan dinding pagar pun penuh dengan gambar serta baliho caleg. Ada pula yang katanya kreatif dengan memasang gambarnya persis di atas kloset wc umum. Sungguh suatu kreatifitas yang dangkal dan asal-asalan. Kesemrawutan pemasangan baliho dan gambar caleg sebenarnya dapat dijadikan suatu hal yang bisa membuat negeri ini terkenal jika diusulkan untuk masuk ke Guinnes Book of Record, sebagai Negeri Baliho.

Bukan suatu yang kebetulan sebenarnya jika Indonesia diberi gelar sebagai Negeri Baliho. Berapa miliar bahkan mungkin triliunan biaya yang habis hanya untuk mencetak dan memasang baliho-baliho tersebut. Suatu pengorbanan yang luar biasa, sehingga wajar jika pengorbanan tersebut memperoleh hasil gelar sebagai Negeri Baliho. Benar, baliho-baliho yang semrawutan itu akan hilang seiring dengan selesainya Pemilu, namun akan lebih berkesan jika gelar Negeri Baliho kita raih sebelumnya. Indonesia tidak hanya terkenal akan kekayaan alamnya yang diberikan dengan gratis oleh Tuhan, tapi juga terkenal dengan kekayaan balihonya yang diusahakan sendiri oleh bangsa ini.

Negeri Baliho adalah bentuk keputusasaan yang akomodatif, sehingga sikap apatis dapat diarahkan ke sesuatu yang menggelikan. Di tengah janji-janji yang semakin bombastis dari para caleg dan capres, masyarakat semakin merasakan sulitnya kehidupan. “Penghamburan” triliunan rupiah untuk sesuatu yang tak pasti akan semakin memunculkan “keloyoan” kepada masyarakat. Masyarakat hanya berpikir yang nyata dan terasa, dan sudah antipati terhadap janji yang nantinya akan dilanggar. Masyarakat mau melihat dan merasakan sembako murah, minyak tanah gampang diperoleh, PHK tidak terjadi, anak-anaknya dapat bersekolah dengan baik, serta penghasilan mereka dapat menghidupi keluarganya. Simpel dan tidak neko-neko, itulah yang masyarakat mau. Masyarakat lebih suka makan nasi garam tapi nyata, daripada makan roti keju tapi hanya janji (mimpi).

Negeri Baliho hanya memasang tampang wajah-wajah yang tersenyum dan berjanji palsu. Bangsa ini tidak akan maju dengan baliho yang mengumbar wajah dan janji-janji saja, tetapi harus dengan bukti nyata. Meski negeri ini mendapat gelar Negeri Baliho dengan berjubelnya baliho yang terpajang di seluruh penjuru negeri di masa-masa pemilu ini, namun pasca pemilu semoga negeri ini tidak mengalami suasana seperti baliho-baliho itu, hanya wajah dan janji palsu belaka. Negeri kita tetap seperti sebelum pemilu bahkan lebih parah lagi. Negeri Baliho semoga tak menjadi nyata di Republik ini.***

 
SYUKUR SALMAN BLOG © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum