Materi-materi sastra dalam diklat MMAS ini disajikan dengan sangat berkompeten dan menarik oleh para sastrawan terkenal negeri ini, antara lain: Taufiq Ismail, Jhoni Ariadinata, Iman Soleh, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Wan Anwar, dan Nenden Lilis.
Beberapa puisi yang tercipta dalam Diklat Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra. Puisi-puisi ini adalah hasil olah teori yang selanjutnya berusaha dituangkan dalam ungkapan cita dan rasa oleh pengarangnya. Masih sangat sederhana, namun merupakan bukti bahwa menulis puisi itu sama sekali tidak sulit, apalagi jika ditekuni oleh orang yang berbasic pendidikan, khususnya guru.
Perhatikanlah perbedaan masing-masing puisi di bawah, termasuk unsur kata dan kalimat pembentuknya, serta cita rasa yang dirasakan.
INTROSPEKSI
M. Syukur Salman
Aku ingin membanting dunia
Yang lupa akan keesaan-Nya
Aku ingin merobek impianku
Yang menjauh dari jangkauan
Aku ingin melumat kesenjangan
Yang tak pernah menengok si miskin
Aku ingin meremas hari esok
Yang malu menatap wajahku
Aku ingin menampar diri ini
Yang selalu marah dan berkecil hati
KASIH
M. Syukur Salman
Kau menangis di sana menguak misteri cinta
Tatkala dingin malam mulai membuat gerah
Kususuri relung kerinduan dengan pejaman mata
Kurebahkan diri di atas rosban ketakberdayaan
Kutatap semua dengan hampa dan menghilang
Sukma menghambur mendesak dada yang terbusung
Di dalam dada kurasakan kehadiranmu… beningku
Wahai… pengobat rindu , datang… datanglah…
Biarkan seluruh jiwa raga ini menyambutmu dengan kasih
Kasih…
Cintaku….
Biarkan aku membelaimu dalam sentuhan kemesraan
Biarkan aku memelukmu dalam rengkuh kerinduanku
Biarkan aku menciummu dalam gejolak asmaraku
Biarkan aku menerima kepasrahanmu
AIR MATA PENJUAL BUBUR AYAM
M. Syukur Salman
Sungai semakin mengering didera kerasnya hujan
Tanah membentang tandus mengerang pada banjir
Gunung-gunung semakin kokoh membiarkan si penjarah hutan
Rakyatku mengarungi kemakmurannya di tengah sang koruptor
Negeriku mempesona seantero dunia mengamini kesewenang-wenangan
Teriakanku hanya menggema hampa menjadi angin
Hentakanku hanya menggoyang kertas di lantai kemiskinan
Tidakkah kau lihat penjual bubur ayam lari dari bengisnya pentungan
Butakah kau pada safari si penguras harta negeri ini di Senayan sana
Yang hanya mengenal restoran dan hotel berbintang dilapar dan ngantuknya
Yang melihat dengan senyum brengsek kepada penjual bubur ayam yang tergusur
Hai…penjual bubur ayam… lawan… lawan saja dia
Agar semua orang tahu bahwa penjual bubur ayam tidak selembek bubur
Agar semua orang tahu bahwa penjual bubur ayam tidak sebodoh ayam
Penjual bubur ayam….
Cipinang terlalu mahal untukmu menghabisi hari-hari kelammu
Kau bukan bandar narkoba yang semakin sakao di balik terali
Kau bukan sang koruptor yang semakin kaya di bui
Kau bukan koneksi si sipir yang memakai baju ketamakan
Kau…., hanya punya bubur ayam dan air mata
BERBALAS CINTA
M. Syukur Salman
Sungguh, engkau pahlawan hatiku
Yakin aku untuk mengharapkanmu
Ukurannya adalah kesetiaan imanmu
Kreativitas adalah konsep hidupmu
Untuk aku jadikan teladan hidupku
Rona wajahmu akan teringat selalu
Mempesona, itulah kata untukmu
Untuk cintaku yang di sana selalu
Kukirim rinduku yang suci padamu
Rona wajahmu seperti mentari pagi yang lugu
Ingin rasanya hadir di setiap mimpimu
Membelai hati yang merangkum diriku
Amboi… dewi malamku
Harapan bersua dengan kasihku selalu
PAREPAREKU
M. Syukur Salman
Menyibak sukma di sejuknya semilir Lumpue
Tatkala Pasar Senggol tergoyang oleh derap langkah
Melintas harapan di Bau Massepe untuk kemajuanmu
Mesjid Agung… di sana sujud kita padukan untuk-Nya
Meski deburan ombak di Pantai Parepare tak pernah berhenti
Meski belukar Hutan Jompie semakin merimba
Dan, Sumur Jodoh tak lagi dipercaya jalinkan kasih sayang
Namun, semangat B.J. Habibie harus menjadi inspirasi
Teladan Prof. Siri dan Prof. Muiz harus menjadi motivasi
Bangkit… Arahan Zain Katoe terus menjadi pandu untuk semua
Membawa terbang Lakessi, Ujung, Bacukiki, dan Bacukiki Barat ke awan
Tataplah jiwa-jiwa hidup di Monumen 40 ribu jiwa terus menggema
Mengiringi langkah lewati jembatan Sumpang Minangae
Pegang teguh petuah Gurutta Pabbaja yang menelisik ke jiwa
Semoga Bandar Madani menjadi nyata dalam rengkuh ridho-Nya, Amin.




