• Sarjana Pendidikan, Harus Bisa!

    Gelar sarjana saat ini bukanlah menjadi sesuatu yang sangat membanggakan jika dilihat dari sisi kuantitas penyandang gelar tersebut. Lebih lagi jika gelar sarjana tersebut adalah Sarjana Pendidikan yang merupakan gelar sarjana yang termasuk sangat besar jumlah penyandangnya.

  • KEPENASARANAN INTELEKTUAL

    Ada yang menarik dari sambutan Mendiknas pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Dimunculkannya suatu gabungan kata yang sungguh sangat mendalam maknanya. Kepenasaran Intelektual, demikian gabungan kata yang dimaksud. Gabungan kata ini memiliki dua keunikan.

  • PARA LELAKI, BELAJARLAH DARI KARTINI

    Setiap kita memperingati Hari Kartni 21 April, maka yang terbayang adalah sosok wanita anggun, lemah lembut, taat pada suami, dan selalu bersemangat untuk kebangkitan kaumnya, para wanita. Saat ini, terkadang kita kesulitan menemukan wanita yang seperti itu lagi.

JIKA SEKOLAH BAK LIGA INGGRIS

Selasa, 17 November 2009 0 komentar


Pendidikan merupakan faktor yang paling diakui sebagai penentu maju tidaknya suatu bangsa. Bangsa atau negeri yang maju diyakini mempunyai sistem pendidikan yang berkualitas tinggi, sebaliknya negara yang terpuruk dan masih miskin, juga faktor pendidikan yang rendahlah penyebabnya. Di Indonesia, bahkan di dunia ini pada umumnya masih menyepakati bahwa pendidikan pada umumnya berhubungan langsung dengan Satuan Pendidikan. Satuan pendidikan atau yang lebih dikenal dengan nama sekolah, merupakan suatu bentuk institusi formal yang paling diakui sebagai wadah pendidikan yang pada akhirnya sebagai pencetak generasi suatu bangsa. Meskipun pada kasus-kasus tertentu adapula di luar itu, yang kita kenal sebagai pendidikan in formal dan non formal.

Keberadaan sekolah di negeri kita telah tersebar hampir ke segenap penjuru. Di kota-kota besar maupun kecil, di desa-desa, bahkan di pedalaman negeri ini kita akan temui sekolah. Mutu sekolah tentu saja terus ditingkatkan dengan berbagai teknik yang diterapkan oleh pemerintah dan pihak sekolah itu sendiri. Peningkatan kualitas sekolah tentu saja bertujuan untuk meningkatkan pula mutu keluarannya, yakni para peserta didik yang akan menjadi penerus bangsa ini. Segala daya dan upaya berusaha diterapkan dan diaplikasikan demi peningkatan kualitas sekolah tersebut. Mulai dari sisi kurikulum, metode pembelajaran, sistem pengadministrasian, sarana dan pra sarana, dan tentu saja yang terpenting adalah peningkatan kualitas guru yang mengajar, mendidik, dan melatih peserta didik di sekolah. Pendanaan yang sangat besar pun dikeluarkan dan tak menjadi halangan demi peningkatan kualitas sekolah.

Jika dicermati dengan seksama, maka akan terlihat bahwa kualitas sekolah tidak merata. Ada sekolah mempunyai kualitas yang sangat tinggi, tetapi ada pula justru mempunyai kualitas yang “menjengkelkan” atau rendah sekali. Hal ini terjadi, bukan hanya sekolah di daerah yang satu dengan daerah yang lainnya, tetapi juga banyak ditemukan sekolah-sekolah pada daerah yang sama. Bahkan, pada kecamatan atau kelurahan yang sama, lebih parah lagi antarsekolah di satu kompleks persekolahan. Ini tentu merupakan hal yang menjadi tanda tanya besar bagi kita yang peduli akan pendidikan. Bangunan atau gedung yang sama bentuknya, dana yang sama mencukupi, murid sama banyaknya, guru jumlahnya juga mencukupi, namun mengapa luarannya berbeda dari segi kualitas. Bahkan, tidak jarang sekolah yang lebih berkualitas tersebut mempunyai kondisi yang lebih rendah dari sekolah yang berkualitas “menjengkelkan” tadi. Jadi, apa yang sebenarnya salah dalam pengelolaannya?

Sebelum kita tertuju pada permasalahan kualitas sekolah di atas, mari kita arahkan pemikiran dan pandangan kita pada salah satu liga sepakbola paling “panas” di dunia, yakni Liga Inggris. Persaingan antarklub sepakbola di Inggris betul-betul mencengangkan kita. Dengan kualitas pemain yang semuanya hampir sama meskipun di setiap klub ada pemain-pemain handalnya. Mengapa bisa demikian? Itu karena keberanian mereka mengadakan “jual beli” pemain. Transfer pemain hebat “berkelebatan” di liga-liga dunia, terutama liga Inggris tersebut. Pemain yang dianggap paling berkualitas tentu saja mendapat bayaran paling tinggi. Akhirnya, klub yang paling banyak mempunyai pemain “jago” tentu saja sebagai favorit juara, dan hal itu jarang meleset. Selain itu, klub yang mempunyai manager atau pelatih yang “flamboyant” (berkualitas), juga berperan meningkatkan kualitas klub. Sehingga sinergi antara pemain handal dan pelatih berkualitas akan menghasilkan klub yang “ditakuti” oleh para kompetitornya.

Jika seandainya, sistem persekolahan bisa meniru apa yang dilakukan oleh klub-klub di liga Inggris, maka akan menghasilkan suatu loncatan kualitas yang mencengangkan. Sistem persekolahan harus lebih fleksibel dan mungkin akan sejalan dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Semua stakeholder sekolah harus mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas sekolahnya. Pihak sekolah harus berusaha “mentransfer” guru-guru berkualitas untuk masuk menjadi bagian “squad” sekolahnya. Bagaimana caranya? Liga Inggris. Sekolah harus berani mengeluarkan “kocek” untuk memperoleh “Cristiano Ronaldo” nya guru. Guru berkualitas akan memperoleh hasil dari kerja kerasnya selama ini yang serius dan bersungguh-sungguh melakoni profesinya sebagai guru. Sedangkan guru yang santai, kurang peduli, dan yang hanya cukup dengan menjadi PNS belaka, tentu akan menjadi penonton saja. Selain itu, jika pendanaan yang ada di sekolah dimanfaatkan sebagian untuk merekrut guru berkualitas akan jelas maksud dan tujuannya serta hasil yang akan diperoleh. Bahkan melebihi hasil jika sekolah membeli buku yang banyak serta peralatan sekolah lainnya. Mengapa? Tanpa guru yang berkualitas niscaya semuanya itu hanya tinggal sebagai pajangan. Belum lagi jika dana-dana sekolah yang sekarang ini cukup banyak hanya berkutat pada “mark up” dan “fiktif”.

Sungguh, akan didapati berbagai tanggapan yang tentu tidak hanya positif tapi juga negative, jika sekolah mengadaptasi system Liga Inggris tersebut. Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang sangat wajar. Faktor kepatutanlah, jiwa pahlawan tanpa tanda jasalah, sampai persoalan keikhlasan akan banyak terungkap sebagai bagian tanggapan negatif. Semuanya itu, masih wajar saja, terkecuali jika ada yang berpendapat bahwa biarlah kualitas pendidikan rendah terus menerus daripada harus mengadopsi sistem Liga Inggris. Pendapat ini diyakini berasal dari orang-orang loyo dan menyukai apa adanya, dari sejak dulu sampai sekarang sama saja. Sistem sekolah bak Liga Inggris akan menghasilkan persaingan sehat antarsekolah dan guru-guru akan berlomba memacu diri menjadi guru paling berkualitas. Bahkan, jika guru-guru yang “tidak laku” dapat disepakati untuk sedikit demi sedikit terkurangi penghasilan tetapnya dengan ketentuan-ketentuan yang disepakati, maka akan luar biasa hasilnya.

Adanya guru-guru handal di sekolah sebagai hasil transfer guru ditambah dengan kepala sekolah yang mempunyai visi misi pengembangan sekolah secara dinamis, maka kita akan saksikan sekolah-sekolah yang sungguh berkualitas. Bukan hanya berkualitas karena sering tampil di koran atau majalah saja apalagi dengan bayaran, tetapi dapat dicek secara langsung di lapangan. Dengan manfaat dan hasil yang luar biasa jika sekolah memakai sistem Liga Inggris tersebut, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita mempunyai keberanian untuk menerapkan system tersebut demi peningkatan mutu sekolah yang selanjutnya akan meningkatkan pendidikan demi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai ini? Ataukah, kita hanya selalu mau jadi pengecut dan diberi gelar Negara Kuli? Pikirkanlah! SEKIAN.

PAHLAWAN DI ANTARA "CICAK DAN BUAYA"

Rabu, 11 November 2009 0 komentar

Ketika bangsa ini heboh dengan kasus “Cicak dan Buaya” di ibukota Negara, masih jutaan anak negeri ini yang mengais di tong sampah, menjadi korban gusuran, kelaparan, jadi korban gempa dan kebakaran, dan masih banyak penderitaan lainnya. Kasus “Cicak dan Buaya” seakan-akan menenggelamkan kondisi negeri ini yang memang setiap hari tak lepas dari derita. Bagaikan sesuatu yang sangat lumrah dan telah menjadi “makanan sehari-hari” bangsa ini, maka penderitaan yang sehari-hari dapat kita saksikan di depan hidung kita, akhirnya harus mengalah terhadap perseteruan “Cicak dan Buaya” tersebut. Kita pun masyarakat awam yang mungkin tak ada hubungan sebab akibatnya sangat antusias dalam bersikap terhadap keberpihakan kita terhadap “Cicak” dibanding “Buaya”.

Berbagai tanggapan keprihatinan pun bermunculan sebagai tanda kita sangat prihatin terhadap kondisi penegakan hukum di Negara hukum ini. Facebookers pun menggalang solidaritasnya dengan mengumpulkan 1 juta pendukung untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), satu pertanda bahwa anak-anak bangsa ini masih benci akan ketidakadilan dan sangat konsens mendukung orang-orang yang didzalimi dan yang terkena penderitaan. Lalu, kemana kita tatkala orang-orang di sekitar kita juga mengalami penderitaan. Begitu banyak saudara kita yang masih butuh bantuan kita, baik moril maupun materil. Apakah mereka yang menderita itu harus disiarkan melalui media cetak dan elektronik secara gencar barulah dukungan kita kepadanya mengalir, meskipun mereka hanya bersebelahan rumah dengan kita? Jika demikian prinsip kita, maka apakah tidak salah kalau dukungan diberikan kepada “cicak”, padahal kita sendiri adalah “buaya”.

Jika kita cermati kronologis “cicak dan buaya” maka pada klimaksnya adalah bahwa “buaya” sekalipun telah mengaku sebagai “cicak”. Orang-orang yang mendukung setelah tengok kanan kiri dan setelah memastikan bahwa angin berhembus ke arah “cicak” maka mereka pun mengacungkan jempol pada “cicak”. Mereka mungkin sedikit kurang paham bahwa tidak mungkin seseorang bermuka “cicak” jika hatinya “buaya”. Banyak yang telah menjadi “pahlawan kesiangan” dalam menanggapi kasus ini. Jadi, tentu kita tak mau menjadi “pahlawan kesiangan” karena hanya menjadi beban belaka tanpa ada pengaruhnya sama sekali. “Pahlawan Kesiangan” juga akan menjadi mudah menjadi “Bedebah Kepagian”. Orang-orang yang tak punya prinsip, kemana angin berhembus ke situ pulalah mereka berada.

Menjadi pahlawan tentu saja bukan hal yang mudah, tapi tentu saja kita tidak harus mengangkat senjata seperti pada masa revolusi. Tidak pula harus menjadi anggota KPK yang memberantas korupsi di negeri ini. Semua kita dapat menjadi pahlawan, hanya saja pada lingkup yang berbeda. Sebagai ayah kita lindungi anak istri dan keluarga kita, maka jelas kita menjadi pahlawan dalam rumah tangga kita sendiri. Sebagai guru, kita abdikan diri kita untuk mencerdaskan anak didik kita dalam kelas, maka tentu kita telah menjadi pahlawan lingkup kelas dan anak didik kita. Pada prinsipnya, pahlawan tentu saja mengarah kepada bantuan yang diberikan dalam bentuk yang positif.

Kasus “Cicak VS Buaya” telah melahirkan pahlawan-pahlawan keadilan di negeri ini, suatu momen yang sangat baik. Namun, kita tidak harus menunggu momen-momen dramatis seperti ini jika akan menjadi pahlawan. Di sekitar kita saja, bertebaran momen yang memanggil jiwa kepahlawanan kita untuk diabdikan segera. Mari kita membuat diri ini lebih peka terhadap permasalahan-permasalahan social yang tiap hari ada dan menghampiri kita. Tidak perlu menunggu sampai permasalahan itu terekspos di media atau tidak. Kita sudah mahfum akan ketidakadilan, kemelaratan, kemiskinan, keterpurukan, penderitaan, dan lainnya. Jadilah pahlawan sesuai kemampuan dan lingkup kita, sehingga negeri ini sampai ke pelosok-pelosoknya punya pahlawan-pahlawan yang intens memperjuangkan dan membela kebenaran dan keadilan. Selamat Hari Pahlawan, Pahlawanku. SEKIAN.

Rekor Muri untuk Parepare

Jumat, 06 November 2009 0 komentar

Keberhasilan Parepare memperoleh MURI (Museum Rekor Indonesia) beberapa waktu yang lalu, pada kegiatan membaca puisi koran dengan jumlah peserta terbanyak, sungguh sangat membanggakan kita semua, masyarakat Parepare. Beberapa kegiatan lain pun telah diusahakan untuk memperoleh MURI, namun karena persyaratan tidak dipenuhi akhirnya gagal. Namun, kita telah berusaha semaksimal mungkin dan hal tersebut merupakan nilai tambah tersendiri yakni bahwa kita telah berbuat, kita tidak tinggal diam. Kita menginginkan di Parepare kembali mendapat MURI sehingga nama Parepare bisa kembali cemerlang seantero nusantara ini.

MURI yang kita peroleh dan beberapa yang gagal adalah suatu bentuk usaha yang dengan sengaja dilakukan dan membutuhkan persiapan, biaya dan tenaga yang matang. Beberapa bulan dipersiapkan, membutuhkan biaya pendanaan yang tentu saja banyak, serta peserta atau tenaga yang dibutuhkan tentu saja banyak karena inti penilaian selama ini segi jumlah atau kuantitas peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Jika pijakan kita untuk memperoleh MURI masih konvensional yakni segi jumlah peserta, maka memang agak sulit menciptakan rekor kembali dan terkesan “kurang bermutu” meskipun tentu saja kreativitas pencapaian cukup membanggakan kita masyarakat Parepare.

Pada minggu terakhir ini, ada suatu hal yang mungkin dapat kita usulkan mendapatkan rekor MURI kembali. Tidak butuh persiapan karena telah terjadi, biaya pun tak dibutuhkan lagi, dan tenaga atau jumlah peserta tak perlu lagi. Segi kreavitas dalam pengajuannya pun cukup unik dan mungkin bukan untuk mendapatkan tapi menciptakan MURI karena baru pertama diusulkan jika memang kita sepakati untuk mengusulkannya.

Apa yang sebenarnya perihal yang dapat kita usulkan menciptakan rekor MURI itu? Beberapa hari yang lalu wacana suksesi atau PIlkada di Parepare ini telah berhembus. Wacana ini terus saja bergulir dan telah menghangat. Pengguliran wacana suksesi di Parepare ini, marak dengan cepat bahkan sebelum genap satu tahun pemerintahan baru di Parepare dilantik. Ini adalah suatu hal yang luar biasa, sehingga sangat mungkin diusulkan menciptakan rekor MURI. Rekor MURI yang diharapkan dapat kita raih adalah sebagai kota atau daerah yang paling cepat mewacanakan suksesi kepala daerah atau PILKADA.

Jika kita sepakat untuk mengusulkannya ke MURI maka Parepare harus siap menerima konsekuensi positif maupun konsekuensi “negative”. Konsekuensi positifnya tentu saja akan membuat kita tersenyum gembira, tetapi konsekuensi negative mungkin saja membuat kita geleng-geleng kepala atau mungkin menggerutu. Positifnya bahwa Parepare telah menambah khazanah perbendaharaan rekor MURI yang diperolehnya. Negatifnya bahwa inti pencapaian rekor tersebut yakni “kegilaan atas kekuasaan” akan membuat kita mengernyitkan kening. Tidak sampai setahun pemerintahan daerah yang baru terbentuk, kita sudah bicara tentang PILKADA kembali. Pemilihan Kepala Daerah pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan daerah tersebut. Tapi benarkah hal itu dapat terealisasi, jika belum cukup setahun pemerintahan kita kembali berhiruk pikuk tentang PILKADA?

Kekuasaan sungguh menggiurkan, apalagi yang kita lihat pada semua fasilitas yang akan diperoleh jika kekuasaan itu dapat kita duduki. Segala kenyamanan dapat membuat kita lupa akan tujuan utama yakni mensejahterakan masyarakat. Belum lagi kehormatan dan pujian akan mengalir pada seseorang yang diberi amanah kekuasaan tersebut. Penghormatan dan pujian yang kadang semu dan menganut system ABS (Asal Bapak Senang) belaka. Semoga wacana yang dilontarkan oleh beberapa kalangan penting di kota ini tentang suksesi yang sangat “kepagian” sehingga dapat diusulkan mendapat MURI, bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat tadi. Tapi meski demikian, image masyarakat kepada kalangan yang mengkoarkan Pilkada saat ini di Parepare, merupakan bentuk “kegilaan” atas kekuasaan belaka. Oleh karena itu, akan lebih bijak dan elegan jika orang-orang yang berniat maju ke ajang Pilkada, menfokuskankan diri membantu dalam hal membangun daerah dan mensejahterakan masyarakat kita terlebih dahulu.

Tapi, tentu kita akan boleh juga berterima kasih kepada mereka yang melakukan gerakan “pagi” untuk Pilkada tersebut, jika seandainya MURI bersedia mencatatkan peristiwa tersebut dalam buku rekornya, sehingga Parepare tercatat sebagai daerah yang paling cepat mewacanakan Pilkada, yakni belum setahun setelah Pilkada terakhir berlalu. Semoga… Yah Semoga TIDAK. Sekian.

 
SYUKUR SALMAN BLOG © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum