• Sarjana Pendidikan, Harus Bisa!

    Gelar sarjana saat ini bukanlah menjadi sesuatu yang sangat membanggakan jika dilihat dari sisi kuantitas penyandang gelar tersebut. Lebih lagi jika gelar sarjana tersebut adalah Sarjana Pendidikan yang merupakan gelar sarjana yang termasuk sangat besar jumlah penyandangnya.

  • KEPENASARANAN INTELEKTUAL

    Ada yang menarik dari sambutan Mendiknas pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Dimunculkannya suatu gabungan kata yang sungguh sangat mendalam maknanya. Kepenasaran Intelektual, demikian gabungan kata yang dimaksud. Gabungan kata ini memiliki dua keunikan.

  • PARA LELAKI, BELAJARLAH DARI KARTINI

    Setiap kita memperingati Hari Kartni 21 April, maka yang terbayang adalah sosok wanita anggun, lemah lembut, taat pada suami, dan selalu bersemangat untuk kebangkitan kaumnya, para wanita. Saat ini, terkadang kita kesulitan menemukan wanita yang seperti itu lagi.

P U I S I

Senin, 09 Maret 2009 6 komentar


Materi-materi sastra dalam diklat MMAS ini disajikan dengan sangat berkompeten dan menarik oleh para sastrawan terkenal negeri ini, antara lain: Taufiq Ismail, Jhoni Ariadinata, Iman Soleh, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Wan Anwar, dan Nenden Lilis.

Beberapa puisi yang tercipta dalam Diklat Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra. Puisi-puisi ini adalah hasil olah teori yang selanjutnya berusaha dituangkan dalam ungkapan cita dan rasa oleh pengarangnya. Masih sangat sederhana, namun merupakan bukti bahwa menulis puisi itu sama sekali tidak sulit, apalagi jika ditekuni oleh orang yang berbasic pendidikan, khususnya guru.

Perhatikanlah perbedaan masing-masing puisi di bawah, termasuk unsur kata dan kalimat pembentuknya, serta cita rasa yang dirasakan.

INTROSPEKSI
M. Syukur Salman

Aku ingin membanting dunia
Yang lupa akan keesaan-Nya

Aku ingin merobek impianku
Yang menjauh dari jangkauan

Aku ingin melumat kesenjangan
Yang tak pernah menengok si miskin

Aku ingin meremas hari esok
Yang malu menatap wajahku

Aku ingin menampar diri ini
Yang selalu marah dan berkecil hati


KASIH
M. Syukur Salman
Kau menangis di sana menguak misteri cinta
Tatkala dingin malam mulai membuat gerah
Kususuri relung kerinduan dengan pejaman mata
Kurebahkan diri di atas rosban ketakberdayaan

Kutatap semua dengan hampa dan menghilang
Sukma menghambur mendesak dada yang terbusung
Di dalam dada kurasakan kehadiranmu… beningku
Wahai… pengobat rindu , datang… datanglah…
Biarkan seluruh jiwa raga ini menyambutmu dengan kasih

Kasih…
Cintaku….
Biarkan aku membelaimu dalam sentuhan kemesraan
Biarkan aku memelukmu dalam rengkuh kerinduanku
Biarkan aku menciummu dalam gejolak asmaraku
Biarkan aku menerima kepasrahanmu


AIR MATA PENJUAL BUBUR AYAM
M. Syukur Salman

Sungai semakin mengering didera kerasnya hujan
Tanah membentang tandus mengerang pada banjir
Gunung-gunung semakin kokoh membiarkan si penjarah hutan
Rakyatku mengarungi kemakmurannya di tengah sang koruptor
Negeriku mempesona seantero dunia mengamini kesewenang-wenangan

Teriakanku hanya menggema hampa menjadi angin
Hentakanku hanya menggoyang kertas di lantai kemiskinan
Tidakkah kau lihat penjual bubur ayam lari dari bengisnya pentungan
Butakah kau pada safari si penguras harta negeri ini di Senayan sana
Yang hanya mengenal restoran dan hotel berbintang dilapar dan ngantuknya
Yang melihat dengan senyum brengsek kepada penjual bubur ayam yang tergusur

Hai…penjual bubur ayam… lawan… lawan saja dia
Agar semua orang tahu bahwa penjual bubur ayam tidak selembek bubur
Agar semua orang tahu bahwa penjual bubur ayam tidak sebodoh ayam

Penjual bubur ayam….
Cipinang terlalu mahal untukmu menghabisi hari-hari kelammu
Kau bukan bandar narkoba yang semakin sakao di balik terali
Kau bukan sang koruptor yang semakin kaya di bui
Kau bukan koneksi si sipir yang memakai baju ketamakan
Kau…., hanya punya bubur ayam dan air mata



BERBALAS CINTA
M. Syukur Salman

Sungguh, engkau pahlawan hatiku
Yakin aku untuk mengharapkanmu
Ukurannya adalah kesetiaan imanmu
Kreativitas adalah konsep hidupmu
Untuk aku jadikan teladan hidupku
Rona wajahmu akan teringat selalu

Mempesona, itulah kata untukmu
Untuk cintaku yang di sana selalu
Kukirim rinduku yang suci padamu
Rona wajahmu seperti mentari pagi yang lugu
Ingin rasanya hadir di setiap mimpimu
Membelai hati yang merangkum diriku
Amboi… dewi malamku
Harapan bersua dengan kasihku selalu







PAREPAREKU
M. Syukur Salman

Menyibak sukma di sejuknya semilir Lumpue
Tatkala Pasar Senggol tergoyang oleh derap langkah
Melintas harapan di Bau Massepe untuk kemajuanmu
Mesjid Agung… di sana sujud kita padukan untuk-Nya
Meski deburan ombak di Pantai Parepare tak pernah berhenti
Meski belukar Hutan Jompie semakin merimba
Dan, Sumur Jodoh tak lagi dipercaya jalinkan kasih sayang
Namun, semangat B.J. Habibie harus menjadi inspirasi
Teladan Prof. Siri dan Prof. Muiz harus menjadi motivasi
Bangkit… Arahan Zain Katoe terus menjadi pandu untuk semua
Membawa terbang Lakessi, Ujung, Bacukiki, dan Bacukiki Barat ke awan
Tataplah jiwa-jiwa hidup di Monumen 40 ribu jiwa terus menggema
Mengiringi langkah lewati jembatan Sumpang Minangae
Pegang teguh petuah Gurutta Pabbaja yang menelisik ke jiwa
Semoga Bandar Madani menjadi nyata dalam rengkuh ridho-Nya, Amin.

Grup Teater di Sekolah, Mungkinkah?

0 komentar


Hampir sangat jarang kita tahu ada sekolah yang mempunyai grup teater. Bahkan di beberapa daerah sama sekali tidak ada satu pun sekolah yang mempunyai grup teater. Jika ada, mungkin hanya insidentil saja sifatnya, dalam arti terbentuk karena akan ada pagelaran atau pertunjukan, baik itu pada momen memperingati hari besar maupun momen lomba. Grup teater, khususnya di sekolah-sekolah atau di daerah-daerah jarang sekali yang eksis. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, namun tentu saja yang paling utama adalah manusianya.

Semangat yang besar untuk membentuk grup teater tentu saja sangat dibutuhkan, tetapi akan sia-sia semangat yang menyala-nyala tanpa didasari oleh pengetahuan yang cukup tentang teater. Pementasan suatu grup teater tidak dapat dilakukan secara instant atau dengan cepat. Agar pementasan dapat disajikan dengan kualitas yang diharapkan, paling tidak “lumayan” memerlukan proses yang cukup panjang. Hal ini juga terungkap dalam penyajian materi yang berhubungan dengan teater oleh Iman Saleh, salah seorang koreografer teater handal negeri ini, bahwa: teater harus memberikan martabat pada proses.

Jika grup teater akan dibentuk pada sebuah sekolah haruslah dengan perencanaan yang matang, sehingga tidak hanya mementingkan visi hasil tetapi yang utama adalah proses. Grup teater di sekolah sangat baik masa depannya jika di kelola dengan pengelolaan yang maksimal, karena di sekolah kader aktor teater sangat banyak. Siswa yang tamat akan tergantikan oleh siswa di tingkatan berikut yang telah melalui proses penggodokan di arena teater tersebut. Oleh karena itu, akan sangat luar biasa jika masing-masing sekolah dapat mengusahakan pembentukan grup teater. Tingkat satuan pendidikan tidak terlalu menjadi kendala dalam membentuk grup teater. Hanya saja, memang siswa SMA lebih mudah diarahkan ke teater dibanding siswa SMP, apalagi SD. Walau demikian, bukanlah sesuatu yang mustahil, grup teater terbentuk pula di tingkat SMP atau SD, bahkan TK sekalipun. Hal yang terpenting diingat adalah pemahaman atas pengelolaan teater yang sangat menghargai proses.

Siswa yang ditempa di teater dan menjadi aktor teater akan lebih memiliki kemudahan dalam penghayatan, baik itu teater sendiri, drama, bercerita, atau puisi. Selain itu, siswa akan lebih mudah bersosialisasi kepada temannya, masyarakat, atau orang asing sekali pun. Ini tentu saja akan sangat membantu dalam mengarahkan siswa tersebut dalam konsep-konsep lainnya, termasuk mata pelajaran di sekolah. Ini menunjukkan bahwa proses teater tidak akan menghalangi atau mengganggu proses transformasi pengetahuan lainnya kepada siswa. Hal ini perlu untuk ditekankan agar tidak ada lagi yang beranggapan seni peran atau teater akan banyak menyita waktu, sehingga siswa tak cukup punya kesempatan untuk belajar.

Proses teater sampai pada kesiapan mengadakan pertunjukan adalah merupakan suatu aktifitas yang tidak monoton untuk pertunjukan belaka, namun terimbas pada semangat, sikap, dan daya nalar si pemain teater. Olah vokal, power atau kekuatan, kelenturan, dan penghayatan yang maksimal akan mengarahkan mereka di teater lebih fresh dan tidak kikuk untuk menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan kemampuan dirinya. Kepercayaan diri semakin terlatih dengan baik dalam teater. Jika siswa sebagai pemain atau aktor teater, maka dapat kita bayangkan kreatifitas dan kemampuan yang dapat terjelma pada dirinya. Sekali lagi, yang paling penting adalah proses.

Parepare dengan semilir angin
Laut penuh burung camar
Grup teater terbentuk mungkin
Jika ada semangat besar
(MS2-050309-MMAS)

Revolusi Pembelajaran Sastra di Sekolah

Jumat, 06 Maret 2009 0 komentar


Pembelajaran sastra telah lama kita lakukan di sekolah-sekolah pada tingkatan tertentu. Para guru, khususnya guru Bahasa Indonesia telah berusaha untuk “melunasi” tuntutan pada dirinya untuk mengajarkan sastra pada siswanya. Pelajaran mengarang, membuat cerpen, puisi, esai, dan lainnya diberikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa mampu untuk memahami seperti yang dipamahi oleh guru mereka. Jika pengetahuan dan kemampuan guru bahasa mereka pas-pasan, maka dapat dibayangkan tingkat pengetahuan siswa tentang sastra tersebut. Ironisnya lagi, motivasi untuk lebih menggali kesusastraan lebih mendalam tidak diberikan pula oleh guru. Akan semakin fatal, jika guru menganggap pengetahuan dan kemampuannya dalam sastra merupakan komponen sastra secara keseluruhan.

Membiasakan dan melatih siswa untuk berpuisi, mengarang, membuat cerpen, bermain peran dan atau sebagainya adalah kegiatan yang lumrah dilakukan guru di kelas-kelas dalam mengajarkan sastra. Kegiatan ini tentu baik untuk dilakukan setiap saat, namun tentu saja tidak cukup karena sastra tidak sekedar sesuatu yang harus diulang-ulangi tapi lebih kompleks dari itu. Sastra tidak hanya prakteknya saja, namun juga kaya akan teori yang mendukung pagelaran sastra dilakukan. Lebih dari itu, pembelajaran sastra juga masih tidak cukup hanya dengan semangat saja, karena akan berdampak kejanggalan-kejanggalan yang tentu saja tak dapat dikatakan suatu lingkung sastra. Dalam hal ini Nenden Lilis seorang penulis, sastrawan, dan Dosen UPI Bandung mengatakan bahwa: sastra mempunyai suatu dasar sebagai bentuk kesepakatan dalam “menceburkan diri” dalam sastra itu sendiri.

Seorang sastrawan adalah seorang yang telah terlatih menuangkan konsep sastra (pengetahuan/teori sastra) yang telah di dalaminya dengan maksimal. Konsep sastra dapat saja kita dalami seiring dengan latihan/pertunjukan atau penciptaan karya sastra itu sendiri. Namun, kemampuan kesusastraaan akan stagnan jika metode yang dilakukan seperti saat ini lebih banyak dipraktekkan di sekolah-sekolah. Tujuan mulia sastra khususnya pada bagian dasar dan sangat bersentuhan dengan sekolah, yakni membangkitkan minat baca akan terasa “hambar”. Siswa merasa terbebani dalam mempelajari sastra tersebut karena mereka harus “memakan makanan yang asing baginya dan harus pula dengan teknik berbeda jika memakan makanan yang biasa dilakukannya.”

Jika ditilik lebih mendalam, maka sastra akan lebih cepat ‘membumi” pada diri siswa karena sastra lebih banyak mengetengahkan realita kehidupan. Bandingkan dengan mata pelajaran Matematika yang harus dikuasai siswa lebih banyak tak dapat diaplikasikan atau tak ditemukan siswa dalam realita kehidupannya. Revolusi pembelajaran sastra telah mendesak untuk dilakukan di sekolah-sekolah. Membelajarkan sastra haruslah juga mengetengahkan penanaman konsep sastra itu pada diri siswa. Hal itu akan dapat dilakukan jika faktor utama dari semua itu, yakni guru, harus terlebih dahulu memahami sastra tersebut dengan paripurna, tentu saja pada tingkatan pembelajaran, tidak harus sama dengan sastrawan sekaliber Imam Saleh di teater, Rendra pada puisi, dan Taufiq Ismail dalam penciptaan dan apresiasinya. Walau demikian, tidak juga dinafikan akan muncul sastrawan-sastrawan baru dengan pendekatan pembelajaran sastra yang benar di sekolah-sekolah.

Dampak positif pengiring dari pembelajaran sastra di sekolah adalah dapat menekan nilai-nilai “kekasaran”, baik itu etika keseharian maupun pandangannya terhadap kehidupan yang semakin apatis saja. Kehalusan dan nilai estetika serta religius pada sastra akan mampu merangkum “jiwa-jiwa hampa dan meradang” dalam mencari jati dirinya. Anggapan bahwa sastra merupakan “melankolis jiwa” juga tak semuanya benar. Sastra berusaha menempatkan suatu realita ke dalam penciptaan sastra agar dapat dinikmati dengan segar meski hal itu dalam kenyataan adalah sesuatu yang tragis dan bengis. Kemampuan untuk tetap pada koridor pemikiran jernih dalam menghadapi realita kehidupan saat ini, tentu sangat diperlukan, terutama pada siswa-siswa yang tentu saja akan mengalami hal yang lebih kompleks lagi di masa datang. Perhatikan sebait sajak kerinduan di bawah ini:


Kuingat Engkau dalam sujud Tahajjudku
Kucurahkan rindu padaMu yang terlupa
Bisikkan harapan kemenangan pada cintaku
Yang mengingaku laksana Engkau yang tak pernah alpa
Biarkan air mata cintaku mengalir menderu
Seperti Engkau biarkan gelegar jiwa ini kepadanya
Bimbing air mata kami untuk bersatu mencintaiMu
Dalam rengkuh kasih sayangMu di sana.
(MS2-040309-MMAS)

Gairahkan Minat Baca

0 komentar



Meradang di tengah gelak tawa sang penguasa
Terhempas dalam lumpur duri Bougenvil merah
Biar…
Biarkan dia tertawa dalam kebodohan
Menanti kerongkongan tersedak oleh tulang idealisme
Guru, jangan tertawa seperti sang penguasa yang tak mengerti
Tak mengerti akan arti minat baca anak-anak kita
(MS2-020309-MMAS)

Ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman ini memperlihatkan kemajuan yang luar biasa. Progres yang dirasakan oleh negeri ini, ternyata hanya merupakan imbas dari kemajuan negeri-negeri lainnya di dunia. Bangsa kita diperhadapkan oleh kelemahan mendasar dari bangkitnya suatu negeri menjadi lebih maju. Kurangnya minat baca merupakan pondasi kemajuan yang masih lemah dan berjalan tertatih-tatih jika tidak dapat dikatakan malah statis.

Sekolah yang diharapkan untuk menjadi lahan penggodokan dini membangkitkan minat baca bangsa ini juga terkesan gagal, meski segelintir tak dapat dipungkiri telah menunjukkan perbaikan seadanya. Kondisi ini tentu masih memprihatinkan dan harus menjadi perhatian dari semua yang peduli terhadap kemajuan bangsa ini secara keseluruhan. Pemerintah sebagai penentu kebijakan tentu saja menjadi garda terdepan dalam melakukan hal-hal yang diperlukan untuk memulai gerakan minat baca. Bukanlah suatu revolusi kebijakan yang dibutuhkan, namun diam bergeming pun tak akan memecahkan masalah besar ini. Ironisnya lagi banyak yang sudah menganggap persoalan ini sebagai hal yang lumrah dan tak perlu mendapat perhatian serius.

Menurut Jamal D. Rahman, Pimred Majalah Horison (trainer MMAS) ini, bahwa Bangsa Indonesia terlalu cepat menerima masuknya budaya audiovisual yakni media TV, sebelum budaya baca meluas di masyarakat. Hal ini berdampak negatif bagi masyarakat yang belum menyatu dirinya dengan membaca. Kecenderungan untuk menonton TV apalagi dengan canel yang sangat banyak, sangat dominan dibanding dengan kemauan untuk membaca buku. Hal yang sangat mengkhawatirkan dalam permasalahan ini adalah bahwa kondisi yang sama yakni kurangnya minat baca juga terlihat di dunia akademisi atau di sekolah-sekolah. Mensikapi hal ini tentu saja kita tidak diharapkan saling tuding atau saling mencari “kambing hitam” terhadap penyebab dari semua kesalahan ini.

Kegiatan atau aktifitas dalam proses belajar mengajar yang dapat membangkitkan minat baca sering tidak diperhatikan. Kegiatan menulis/mengarang sudah sangat kurang diajarkan di sekolah-sekolah. Pada umumnya sekolah atau guru terus saja memfokuskan dirinya pada suatu tujuan yakni Ujian Nasional. Penilaian atau tes yang konvensional terus saja menjadi acuan keberhasilan siswa dan guru. Tuntutan yang telah siap “menerkam” guru adalah bahwa siswa mereka harus lulus ujian, persoalan mereka dapat mengaplikasikan atau tidak adalah menjadi urutan kesekian. Pembelajaran monoton adalah suatu teknik baru yang sangat familiar dilakukan sebagian guru terutama di kelas-kelas akhir setiap tingkat satuan pendidikan.

Bukanlah suatu hal salah, jika pembelajaran di sekolah ditekankan untuk melakukan aktifitas yang mengarah pada membangkitkan minat baca siswa. Sebenarnya di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pun telah dinyatakan seberapa banyak buku (buku sastra) yang harus dibaca siswa. Siswa SD diharuskan membaca 6 buku sastra, SMP ditetatpkan 9 buku yang harus dibaca siswa, sedangkan di SMA di bebankan untuk membaca 15 buku. Sebenarnya penetapan jumlah buku yang harus dibaca siswa di sekolah-sekolah negeri ini, jauh tertinggal dibanding negara-negara lain di dunia ini, termasuk negara tetangga Malaysia. Pengharusan membaca buku ini demi memberikan kebiasaan baik pada siswa untuk cinta buku dengan membaca. Oleh karena itu pembelajaran menulis dan membaca perlu ditekankan di sekolah-sekolah. Membuat puisi, cerpen, esai, dan segala macam tulisan harus disosialisasikan, karena kemampuan menulis tentu harus didukung oleh kebiasaan membaca yang cukup.

Guru sebagai ujung tombak gerakan membangkitkan minat baca di negeri ini selain orangtua di rumah, tentu terlebih dulu harus merasakan nikmatnya membaca. Berikan bacaan-bacaan yang disukai oleh siswa dengan bimbingan guru. Jangan paksakan siswa untuk membaca sesuai keinginan guru. Suatu hal yang dipaksakan akan berdampak fatal akibatnya. Minat bacalah yang kita akan kembangkan, bukan hanya membaca mata pelajaran di sekolah tetapi semua hal, tergantung dari kegemaran siswa tersebut. Sering-seringlah membawa siswa atau anak kita ke toko buku. Biarkan dia memilih buku yang disukai. Orangtua memang harus menyisihkan sebagian anggaran belanja mereka untuk keperluan membeli buku. Belajarlah memberi hadiah atau kado berupa buku. Selamat merubah kebiasaan kita sebagai guru dan orangtua.

Pak Sahran di sarang penyamun
Melihat Zaid bertepuk dada
Mari membaca jangan melamun
Agar bisa tampil beda
(MS2-020309-MMAS)

KEPEKAAN SEORANG SASTRAWAN

Selasa, 03 Maret 2009 0 komentar


Biarkan aku mencintaimu dengan sangat sederhana
Seperti yang tak sempat diucapkan kayu pada api sebelum ia menjadikannya abu
Biarkan aku mencintaimu dengan sangat sederhana
Seperti yang tak sempat diucapkan awan pada hujan yang menjadikannya tiada
(sastrawan)

Penggambaran seseorang pada sesuatu hal, menunjukkan sejauh mana kepribadian orang tersebut. Kearifan dan kebengisan seseorang dapat terungkap tidak hanya dengan prilakunya terhadap sesuatu, namun dapat pula dengan jelas tersiar melalui ungkapan dan komentarnya terhadap peristiwa atau orang. Walaupun demikian, tentu saja hal ini tak dapat menjadi suatu konklusi dalam menjastis orang akan tingkat kearifan atau kebengisannya. Lebih jauh lagi, bahwa “bukti” tersebut tak akan diterima saat dibuka pada suatu peradilan. Oleh karena itu, pemahaman kita tentang kearifan dan kebengisan harus terus dipertajam semaksimal mungkin, sehingga kita dapat mengerti dan mampu memahaminya dengan baik, meskipun hanya dengan memperhatikan penggambaran atau komentar seseorang terhadap sesuatu.

Tentu kita telah banyak mengalami, banyak menyaksikan, dan mendengar kondisi yang membawa kita merasa memahami seseorang hanya dengan mendengarkan pendapat atau penggambarannya terhadap orang atau peristiwa. Pada tingkat yang lebih, biasanya kita akan mengatur pertemanan atau pandangan kita terhadap orang tersebut. Sikap ini merupakan suatu timbal balik terhadap sikap orang lain terhadap kita. Kecenderungan untuk bersikap demikian, akan terus terasah seiring kepekaan kita dalam menyelami seseorang atau peritiwa yang terjadi. Jika kita merasa terganggu terhadap seseorang atau peristiwa yang terjadi maka akan muncul energi untuk menilai orang atau peristiwa tersebut secara otomatis, dan hasil dari penilaian itu akan mempengaruhi sikap kita terhadapnya.

Seorang anggota DPR yang dengan angkuhnya memberikan komentar (penggambaran) terhadap Dirut Pertamina beberapa waktu yang lalu, jelas akan sangat mudah memberikan penilaian terhadapnya. Keangkuhan dan kesombongan sudah menjadi kesimpulan atas sikap si anggota DPR tadi. Secara gamblang Mas Iben (sebutan Dosen Sastra Universitas Indonesia, yang nama sebenarnya Ibnu Wahyudi) juga mengkritisi penggunaan bahasa yang amburadul, mempertegas kelemahan si anggota DPR tadi. Sorotan media terhadap hal-hal yang demikian akan semakin membentangkan gambaran terhadap sikap orang tersebut. Tanpa harus melihat dengan kasat mata atas prilaku seseorang, penggambaran atau penilaian terhadap sesuatu tadi akan menjadi masukan bagi kita untuk menilai dirinya.

Seorang sastrawan akan lebih mudah dalam mengolah penilaian terhadap seseorang atau peristiwa yang terjadi. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kepekaan mereka terhadap kondisi di sekitarnya. Kehalusan tata kata dan tata kalimat yang terangkum dalam lontaran bahasa tulis yang terlisankan oleh seorang sastrawan, merupakan modal baginya dalam menempati posisi yang tinggi terhadap kepekaan. Seorang Taufiq Ismail akan selalu “merasa terganggu”, jika suatu kejadian dirasakan, dilihat, dan atau didengar itu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Sel-sel kepekaannya akan “menyeruak” untuk merespon hal itu. Anggukan kepala sering kita lakukan jika suatu hasil sastra telah dipublikasikan ke masyarakat. Sebagian di antara kita akan setuju, dan sebagian lagi akan menolak, meski di dalam hati yang paling dalam juga merasakan kebenaran. Bagi yang menganggap suatu kebenaran adalah suatu yang harus diperjuangkan, jelas akan menerima dengan lapang dada, walau dirinya juga terimbas “sakit”.

Kita tentu saja tidak harus menjadi sastrawan terlebih dahulu baru dapat merasakan kepekaan itu. Namun, akan lebih fatal jika sikap tidak peduli kita terus didahulukan dalam merasakan, melihat, dan mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan seharusnya terjadi. Di sekeliling kita “bertebaran” orang dan kondisi yang dapat merangsang kepekaan kita. Bukan lagi sesuatu yang hanya kita nilai dari pernyataan atau penggambaran orang tersebut terhadap sesuatu, namun telah dengan kasat mata kita menyaksikan, sehingga kita akan diperhadapkan suatu pertanyaan: “Sekeras apakah hati ini?” Sudah semestinya kita meneladani para sastrawan yang mempunyai kepekaan terhadap sesuatu yang “salah” untuk disampaikan perbaikannya dengan bahasa tulis yang dilisankan dengan lembut dan lebih pragmatis. Bukan sekedar dukung mendukung dengan mengandalkan kekuasaan, jumlah yang besar, dan argumen-argumen kebohonngan.

Kepekaan semakin teruji pada saat kita harus memilih wakil dan pimpinan. Masa-masa pemilihan calon legislatif yang ramai sekarang ini merupakan momen dalam menguji kepekaan itu. Penolakan atau dukungan kita, jangan terbelikan dengan uang atau iming-iming yang tidak jelas. Seseorang kita tetapkan sebagai pilihan, harus dengan kepekaan pula. Banyak di antara caleg yang ada telah kita tahu latar belakangnya, sikap, prilaku, dan komentar serta penggambarannya terhadap sesuatu. Ini merupakan modal kita dalam menentukan pilihan. Termasuk jika seorang caleg melakukan money politic, jelas akan “merangsang” kepekaan kita.

Katakan cinta dengan lantang
Di hati yang dalam dan terdiam
Katakan cinta dengan lantang
Di malam senyap dan tak bersuara


SEKIAN

 
SYUKUR SALMAN BLOG © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum