• Sarjana Pendidikan, Harus Bisa!

    Gelar sarjana saat ini bukanlah menjadi sesuatu yang sangat membanggakan jika dilihat dari sisi kuantitas penyandang gelar tersebut. Lebih lagi jika gelar sarjana tersebut adalah Sarjana Pendidikan yang merupakan gelar sarjana yang termasuk sangat besar jumlah penyandangnya.

  • KEPENASARANAN INTELEKTUAL

    Ada yang menarik dari sambutan Mendiknas pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Dimunculkannya suatu gabungan kata yang sungguh sangat mendalam maknanya. Kepenasaran Intelektual, demikian gabungan kata yang dimaksud. Gabungan kata ini memiliki dua keunikan.

  • PARA LELAKI, BELAJARLAH DARI KARTINI

    Setiap kita memperingati Hari Kartni 21 April, maka yang terbayang adalah sosok wanita anggun, lemah lembut, taat pada suami, dan selalu bersemangat untuk kebangkitan kaumnya, para wanita. Saat ini, terkadang kita kesulitan menemukan wanita yang seperti itu lagi.

cerpen : GURUKU, I LOVE YOU

Jumat, 26 Desember 2008 1 komentar


Malam semakin larut, namun mata Rina belum dapat dipejamkan. Degupan jantungnya semakin kencang saja. Mukena yang dipakainya Shalat Isya belum juga dilepas dari badannya’ “Haruskah aku berikan kertas ini?” ditatapnya terus kertas yang masih dipegangnya. Seakan dia mempunyai teman bicara di kamar sepi dan dingin itu, berbagai pertimbangan dan alasan terus dilontarkannya. “Masa sih, aku harus memberikannya?” kembali dia balikkan badannya memandang langit-langit. “Tapi… bagaimana dengan perasaanku. Aku tidak dapat membohongi kata hatiku.” Dia tutup wajahnya dengan bantal guling bercorak mawar merah yang sedari tadi menjadi sasaran tampar dan tinjunya. Sekilat kemudian, Rina memeluknya erat sekali. Buliran-buliran air mata menyeruak keluar membasahi kedua pipi sampai ke lehernya. Dia teringat apa yang telah dialaminya sehingga membuatnya menangis di kelamnya malam itu.

Tiga bulan lalu….

“Yang mana sih?” bisik Rina kepada Wati ”Hush... dilihat Pak Efendy baru tahu rasa kau. Ini kan lagi upacara, Rin.” gemeretak gigi Wati karena jengkel. Rina sedari tadi menanyakan wali kelasnya yang baru, maklum dia bolos tiga hari. Wati tidak mau mendapat teguran karena bicara dalam upacara. Lain dengan Rina, wajahnya yang cantik bertolak belakang dengan tingkah lakunya. Dia dikenal sering mendapat teguran dari para guru. Prilakunya yang sering heboh serta gaya berpakaiannya yang agak mini, membuatnya menjadi selebriti cantik yang nakal di SMA itu.

Matanya terus mengamati satu persatu guru, dan .... ”Yang berjenggot tipis itukan, Ti? Pasti dia orangnya. Wah... tampan juga yah.” ucapnya terus di telinga Wati yang sedari tadi memejamkan matanya karena khawatir. ”Masih muda yah... Apa dia sudah punya istri yah? Aku pastikan dia akan berte...” Belum sampai Rina melanjutkan bicaranya, tangan kanannya terasa ada yang menggenggam dan menariknya ke belakang barisan.

”Kamu, di belakang bersama saya yah, Rin!!” ”Eh.. m..maaf, Pak.” Rina tak dapat berkelit. Dia pasti akan menerima hukuman dari Pak Sahran lagi. ”Betul-betul guru ini... matanya awas sekali...” gerutu Rina dalam hati.

Rina dibawa oleh Pak Sahran ke ruang BP (Bimbingan Penyuluhan) setelah upacara usai. Beberapa temannya sempat mencibirnya, namun Rina menganggapnya angin lalu saja. Mungkin karena sudah terlalu sering berurusan dengan guru BP. Tak lama kemudian, Wati pun menyusulnya. ”Wati... jawab yang jujur. Apa yang dibicarakan Rina tadi dalam upacara? Kamu kan yang diajaknya bicara?” Tanya Pak Sahran yang tetap memandangi wajah Rina. ”Tapi, pak....A..aku tidak bicara koq tadi. Hanya dia tuh yang selalu bicara. Aku hanya diam.” Wati cemberut, dia sangat jengkel kepada Rina yang telah membuatnya menginjak ruang BP, ruang yang dia haramkan dirinya untuk memasukinya.

“Bapak hanya mau tahu... apa yang dibicarakan si cantik ini.” Jelas guru BP nya itu.

“Pak Zaid... Pak Zaid yang dia bicarakan, Pak.” jawab Wati ketus.

”Pak Za..id. Wah.. kamu berbohong lagi, Rin. Sebenarnya memang aku tidak percaya kalau kau berbicara tentang PR Matematikamu yang ketinggalan di rumah. Ternyata... Rinaaa!” tiba-tiba suara Pak Sahran keras. ”Jangan coba-coba menjalankan kebiasaanmu itu pada seorang guru, Rin!” bentak guru BP itu, membuat Rina dan Wati kaget. ”Sebenarnya, bapak sudah lama meminta Kepala Sekolah untuk memindahkanmu dari sekolah ini, Rina. Sekolah ini favorit, Rin... jangan sampai kau yang mencoreng nama baik sekolah. Semua guru juga disini gembira kalau kau pindah saja dari sekolah ini.”

Mendengar itu, Rina tertunduk lesu di depan meja guru BP nya itu. Sekejap kemudian... ”Assalamu’alaikuum......” Pak Zaid masuk ruang BP.

”Eh.. silahkan masuk, Pak. Saya masih menginterogasi anak wali bapak. Ada apa yah, Pak?” tanya Pak Sahran.

”Aku hanya mau kedua anak wali saya mengikuti pelajaranku sekarang, pak.” ujar Pak Zaid sambil duduk di bangku.

”Wati.. kamu masuk kelas.” suruh Pak Sahran. ”Rina, bagaimana Pak?” tanya Pak Zaid memandangi siswanya itu.

”Maksud, bapak?” Tanya Pak Sahran ”Jika diperbolehkan, biarlah saya dulu yang menanganinya, Pak” pinta Pak Zaid.

”Pak Zaid. Dengar yah Pak. Bapak baru tiga hari di sekolah ini. Bapak belum tahu bagaimana prilaku anak ini. Dia ini seperti duri dalam daging di sekolah ini,Pak.” jelas Pak Sahran. Pak Zaid hanya tersenyum mendengar semua yang dikatakan Pak Sahran. ”Iya, Pak. Aku mengerti, tapi... biarlah aku coba.”

”Baik. Jika itu kemauan bapak. Tapi, saya tidak akan menanganinya lagi jika terjadi masalah dengan dia. Ingat, Pak... Bapak masih muda... hati-hati dengan siswa bapak yang cantik ini..”

Akhirnya Pak Zaid diikuti oleh Rina keluar dari ruang BP. ”Thanks yah Pak. Bapak baik deh.” celoteh Rina sambil berlari riang mendahului Pak Zaid. Tapi sejurus kemudian dia berhenti menunggu gurunya itu. ”Tapi Pak. Mengapa bapak melakukan itu?” Pak Zaid tetap berjalan dan tidak berkata apapun atas pertanyaan Rina. ”Bapak pasti tertarik denganku kan?” setelah mengucapkan itu, Rina berlari kembali dan masuk di dalam kelasnya.

”Dia akan bertekuk lutut padaku, Ti.” Rina mencubit perut Wati. Mendapat cubitan yang tiba-tiba, Wati sedikit menjerit.

”Rin... jangan kau berbuat begitu kepadaku. Aku bisa mati nanti. Maksudmu siapa sih?” tanya Wati ternyata penasaran juga.

”Dia...” Rina mengarahkan pandangannya kepada Pak Zaid yang baru masuk kelas. ”Tiga hari, Ti. Yah...beri aku waktu tiga hari, dia akan menyatakan cintanya, padaku.” bisik Rina keras.

”Jangan main-main kau Rin. Dia kan guru. Eh, jika kau tak berhasil?” pancing Wati. “Aku traktir kau di Kentucky.” tegas Rina meyakinkan.
******

Tiga bulan kemudian....

”Pak... tidak adakah jalan agar bapak terus mengajar kami di sini? Kami akan sangat kehilangan panutan dan teladan jika bapak meninggalkan kami.” Ketua Kelas III IPA1 mewakili teman-temannya menyampaikan keberatannya atas kepindahan Pak Zaid ke Sidrap karena terangkat CPNS di sana. Rina dan Wati hanya tertunduk mengusap air mata yang terus mengalir. Selama tiga bulan mereka rasakan pencerahan dari seorang guru yang penuh dengan kebesaran jiwa untuk mendidik mereka. Rina seakan menjadi manusia baru berkat kepekaan gurunya itu dalam berkomunikasi dengannya. Jilbab yang dipakainya sekarang adalah berkat keyakinannya atas nasehat dan arahan guru idolanya itu. Tak ada lagi Rina yang selalu berurusan dengan guru BP. Tak ada lagi Rina dengan gaya selebritisnya. Janjinya kepada Wati untuk membuat gurunya itu bertekuk lutut kepadanya, telah berubah menjadi perasaan cinta yang tulus. Rasa cinta kepada panutan hati yang mau mendengarnya dan bersabar atas prilakunya selama ini. Gurunya itu telah membuatnya menjadi manusia yang menghargai dan dihargai.

*********
Setelah memantapkan dirinya pada malam itu, esok harinya sebelum Pak Zaid meninggalkan Parepare menuju Sidrap, Rina menyelipkan secarik kertas di saku baju gurunya itu. Diperjalanan, senyum merekah di bibir Pak Zaid setelah membaca tulisan pada kertas pemberian Rina, siswa idolanya itu. ”Guruku, I Love You.” SEKIAN.

Membentuk Guru Maksum dan Zero Insident

Rabu, 24 Desember 2008 0 komentar


Seakan tiada habisnya, membicarakan tentang pendidikan khususnya guru semakin hangat dan berkembang saja. Guru memang pantas mendapat sorotan hangat dari masyarakat. Profesi guru sebagai pengemban tugas menciptakan insan cendekia bangsa teramat sangat mulia sekaligus beban berat. Masyarakat bangsa ini sudah terlanjur menumpukan beban begitu berat sekaligus harapan yang tinggi di pundak guru. Harapan masyarakat yang tinggi itulah yang selalu menjadi dorongan kepada guru untuk selalu mengembangkan kualitasnya. Namun, disayangkan bahwa sebagian masyarakat selalu melihat celah terhadap harapan mereka yang tidak dapat terpenuhi, selanjutnya berusaha untuk mendeskreditkan guru dari segi kualitasnya. Hal ini pun masih dapat ditolerir oleh guru dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang merupakan hak semua orang untuk memberikan penilaian.

Persepsi dan penilaian kebanyakan orang terhadap profesi guru memberikan eksklusifisme yang teramat sangat dibanding dengan profesi lainnya. Guru dianggapnya sebagai profesi yang luput akan kesalahan, padahal yang menyandang profesi guru itu adalah manusia biasa, sama dengan masyarakat pada umumnya. Guru bukanlah Batara Guru yang dikenal di dunia pewayangan sebagai dewa. Mampu berbuat apa saja dan tentu terbebas dari kesalahan dan keterbatasan. Guru adalah suatu profesi yang digeluti sebagian dari masyarakat bangsa ini yang telah mematangkan prinsipnya untuk menjadi seorang guru dan mempunyai keahlian (ijazah) dalam bidang tersebut. Orang yang menjadi guru bukan dari satu kepribadian yang sama, tidak pula merasakan sama terhadap permasalahan yang mungkin sama. Singkatnya, guru adalah manusia biasa yang tak luput dari salah.

Guru tidak dapat disamakan dengan malaikat yang zero insident (nol kesalahan), tapi tentu juga jauh dari persamaan dengan setan yang selalu melakukan pelanggaran. Kriteria guru yang baik, profesional, bermutu, atau apapun namanya, tidak berarti bahwa dia tidak pernah berbuat salah atau maksum seperti seorang nabi. Guru juga bukan sebuah komputer yang tidak mempunyai rasa dan perasaan. Masyarakat sering menilai guru sampai pada hal-hal yang sangat kecil. Suara guru yang besar saat tertawa saja, sudah dianggapnya tidak etis menjadi guru. Melihat guru jarang tersenyum, sudah menjadi bahan menjastifikasi ketidakpantasan menjadi seorang guru. Padahal dia seorang guru, mengapa prilakunya seperti itu. Demikian yang sering dilontarkan masyarakat terhadap prilaku seorang guru. Jika bukan guru yang berbuat demikian, maka hal itu merupakan sesuatu yang biasa saja. Penilaian masyarakat terhadap guru meruapakan anti klimaks penilaian masyarakat terhadap prilaku selebritis. Begitu besarnya muatan nilai pada predikat guru seseorang.

Kecenderungan untuk terus memberikan penilaian terhadap guru sampai pada penilaian di dalam kelas sebagai wilayah kerja ”otonom” guru. Ironisnya lagi bahwa yang menilai adalah orang-orang yang belum pernah menjadi guru, sehingga sangat kurang pemahamannya tentang kompleksitas profesi guru terutama dalam proses pembelajaran. Tentu saja penilaian yang demikian belum tentu tak bermanfaat, asalkan menempatkan guru sebagai objek sekaligus subjek dari penilaian. Guru tidak boleh dianggap sebagai boneka yang selalu didorong dan ditarik saja, sesuai kemauan yang punya boneka. Guru adalah profesi cerdas dan tentu saja paham betul apa yang terbaik bagi mereka. Namun, guru tidak pernah menolak hal-hal yang bertujuan meningkatkan kualitas mereka sebagai guru, dari mana pun datangnya.

Masih banyak diskusi tentang peningkatan kualitas pendidikan dan termasuk mencari solusi permasalahan guru, hanya berkutat pada hal-hal yang teramat ideal. Perumpamaannya sama dengan seseorang yang belajar berlalu lintas, maka kita memberitahu bahwa jika lampu merah menyala pada traffic light itu berarti berhenti dan hijau silahkan jalan kembali. Hal ini kita lakukan karena idealnya demikian yakni sesuai aturan lalu lintas yang berlaku. Kita belum sampai menambahkan bahwa sebelum jalan meskipun hijau telah menyala, kita tetap harus waspada melihat kanan dan kiri, jangan sampai ada kendaraan yang melanggar aturan lalu lintas tersebut, sehingga kita dapat terhindar dari kecelakaan. Bagaimana persamaannya dengan diskusi tentang guru tadi? Kita selalu melihat guru dengan persepsi yang ideal. Jauh dari kesalahan, kealpaan, kelupaan, ketidaksenangan, keengganan, dan masih banyak yang lainnya. Maka muncullah saran-saran yang sangat idealistik pula dalam menangani permasalahan guru. Konsep yang menerawang jauh sehingga sempat lupa terhadap insiden-inseden yang justru bersentuhan langsung dengan guru.

Tidak mungkin siswa nakal jika gurunya berwibawa. Guru yang ”marah” hanya pelarian karena tidak menguasai materi bahan ajarnya. Jika guru pintar maka siswanya juga pintar, begitu pula sebaliknya. Kalimat-kalimat semacam itu adalah kalimat-kalimat idealnya suatu kondisi, disamakan dengan eksak bahwa 1 + 1 = 2. Padahal kita maklum bahwa bisa saja ada siswa yang nakal meski gurunya berwibawa atau sebaliknya bisa saja siswanya baik meski gurunya kurang berwibawa. Siapa yang lebih berwibawa di dunia ini dibanding Nabi Muhammad? Apakah tak ada lagi dari kaumnya (Quraish) yang mendustakannya (nakal)? Apalagi hanya seorang manusia biasa seperti guru. Kita yakini pula bahwa orang pintar sekaliber profesor sekalipun mustahil tak pernah memarahi mahasiswanya. Kita juga tahu bahwa ada saja siswa yang berprestasi hasil dari guru yang sedang-sedang saja kepintarannya. Perlu kita ketahui bahwa hubungan guru dengan siswanya bukanlah hubungan yang murni tanpa pengaruh dari manapun. Banyak hal yang dapat merubah konsep ideal tadi sehingga menghasilkan sesuatu yang ”error”. Pergaulan mereka (guru dan siswa) di masyarakat, media elektronik, rumah tangga, kehidupan secara global, dan lainnya termasuk yang dapat merubah sesuatu yang ideal menjadi ”lumrah”. Tentu kondisi ini bukanlah menjadi alasan guru menjadi statis tanpa ada peningkatan dari segala aspek. Merupakan suatu kewajiban bagi guru untuk menambah kemampuannya selalu, itu harus. Hal inilah yang merupakan ”rahasia” suatu kondisi tidak selalu ideal kejadiannya, dan inilah yang dinamakan perjuangan, seperti yang dilakukan Nabi kita dalam menegakkan kebenaran. Guru selalu dituntut untuk meningkatkan kemampuannya, termasuk kemampuan dalam menangani kondisi-kondisi yang tidak ideal tadi. Justru kejadian atau kondisi yang tidak ideal inilah yang memunculkan kreatifitas seorang guru. Simpulannya, bahwa siapapun mereka tak akan mampu membentuk guru yang maksum dan zero insident.

Melihat kondisi real guru dalam kesehariannya merupakan tindakan awal yang baik demi benar-benar tulus mengatasi permasalahan yang melingkupi guru. Kiat-kiat apa saja yang dapat dilakukan guru, agar dapat mengerem marahnya di depan siswanya. Kalaupun itu terjadi (marah) apa yang dapat dilakukan guru untuk kembali meredakan ketegangan suasana. Jika seorang guru mempunyai siswa nakal, apa saja yang dapat dilakukannya untuk menghadapi siswa tersebut secara bijak. Menghukum tentu salah satu alternatif terakhir, lalu bagaimana hukuman yang tepat? Bagaimana pula guru menyiasati untuk menghadapi siswa ”bodoh”? Contoh-contoh suasana di atas adalah sesuatu yang sangat familier pada proses pembelajaran seorang guru di kelas. Oleh karena itu, konsep-konsep solusinya juga sangat diharapkan oleh semua guru bahkan guru yang tidak mengalami ”insident” tersebut, karena disadari bahwa tidak mustahil hal serupa dapat terjadi pada diri mereka. Sharing pengalaman juga merupakan sesuatu yang bisa diusahakan, sehingga permasalahan dari guru dan solusinya juga dari guru. Jadi, sebenarnya tidak terlalu sulit mencari solusi permasalahan guru, asalkan tidak melihat guru sebagai manusia yang maksum dan zero insident tadi. Konsep sederhana dan tidak sulit tadi sebenarnya sudah dilakukan oleh guru. KKG (Kelompok Kerja Guru) dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) sebenarnya mempunyai konsep demikian, hanya saja diakui belum maksimal. Untuk itu memaksimalkan sesuatu yang telah ada dengan bantuan pihak-pihak yang berkepentingan dalam peningkatan mutu pendidikan serta peduli terhadap permasalahan guru, tentu merupakan gagasan yang langsung dapat direalisasikan. SEKIAN.

Renungan Hari Ibu 22 Des 2008

Selasa, 23 Desember 2008 0 komentar


Wanita, Bercita-citalah Menjadi Seorang Ibu

Dunia ini semakin edan. Demikian kita sering berseru tatkala melihat sesuatu yang sudah menyalahi kondratnya, dan berusaha untuk menentang sunnatullah. Kerancuan dalam berpikir terimbas dengan sangat nyata pada pola prilaku sehari-hari. Kepatutan dan tuntunan telah menjadi kepalsuan dan tontonan. Prilaku yang mengobrak-abrik keberetikaan telah menjadi sesuatu yang umum di masyarakat. Pada akhirnya pergeseran nilai semakin deras arusnya dan sulit untuk dibendung. Penghancuran terhadap nilai-nilai sakral dan religius telah terjadi pada semua tingkat dan strata sosial. Tidak mengenal usia dan jenis kelamin, serta tidak memperdulikan lagi nasehat dari sekian banyak sumber, kondisi yang menerobos sendi-sendi nilai etika dan agama terus berlanjut sampai pada titik nadir kekhawatiran yang teramat sangat.

Kita sebagai bangsa yang berTuhan tentu memahami bahwa prilaku kita sebagai hamba-Nya akan berkorelasi langsung dengan kejadian yang selama ini menimpa bangsa dan negara kita. Tak ada yang dapat menyangkal bahwa beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia banyak ditimpa dengan musibah, baik yang namanya bencana alam, maupun musibah yang bersangkutan dengan hubungan kemanusiaan. Keniscayaan bencana tersebut sama nyatanya dengan semakin derasnya pergeseran nilai yang kita anut dan percaya sekarang ini. Bentuk-bentuk pelecehan terhadap nilai-nilai etika dan agama yang nyata terjadi di republik ini, bahkan ironisnya lagi ada yang diperjuangkan. Perjuangan para ”aktifis” kebebasan telah mendobrak batasan-batasan yang telah ditentukan oleh etika agama. Hak Azasi Manusia merupakan alasan yang sangat sering untuk dijadikan dasar untuk menahan gerakan-gerakan pemurnian nilai-nilai religius. Lihat saja tarik ulur pengesahan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi di DPR. Meski telah disahkan, namun ternyata tidak sedikit manusia di Republik ini yang mengaku berTuhan tapi menolak aturan-aturan Tuhan. Lebih mengherankan lagi bahwa ternyata yang menetang UU tersebut banyak pula dari golongan yang diperjuangkan dalam UU itu, yakni perempuan.

Pelecehan yang terjadi selama ini hampir semuanya dialami oleh perempuan. Baik itu pelecehan seks, pisik, maupun non pisik banyak dialami kaum perempuan. Namun, ternyata sebagian di antaranya menganggap eksploitasi terhadap perempuan, merupakan suatu kebebasan yang merupakan hasil dari perjuangan gender dan seni. Kita saksikan saja sendiri unsur-unsur seni yang berhubungan dengan perempuan sebagian besar hanya berkisar pada eksploitasi raga mereka. Peran media massa dan sarana elektronik yang semakin canggih saat ini dalam mengumbar hal-hal yang tidak etis berkenaan dengan perempuan sangat ampuh mengimbaskan prilaku-prilaku ”kotor” tersebut ke masyarakat luas bahkan sampai ke pelosok. Perhatikan saja aktifitas ”candoleng-doleng” di beberapa pelosok Sul-Sel yang mengumbar pornoaksi di tempat umum. Juga sudah sangat sering kita mendengar adanya prilaku-prilaku mesum yang direkam dengan ponsel. Lebih dari itu, pelakunya juga tidak lagi memandang siapa mereka. Mulai dari pejabat, pegawai, sampai pada anak sekolah sekalipun. Pada bagian yang terakhir ini sungguh sangat mengkhawatirkan, yakni pelakunya anak sekolah yang jelas-jelas sebagai penerus bangsa.

Sebenarnya, prilaku-prilaku mesum yang terjadi pada sebagian anak sekolah kita tentu melalui proses. Kecenderungan untuk mengeksploitasi diri mereka dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama memang telah dibentuk oleh mereka dan orang-orang di luar mereka. Pergaulan mereka yang tidak terkontrol oleh orangtua dan guru termasuk yang mempercepat proses tersebut. Tidak hanya itu, cara hidup mereka seperti cara berpakaian dan aktifitas keseharian di luar jam sekolah sudah sangat menjurus ke hal-hal negatif. Rok mini, celana, dan baju ketat sudah merupakan hal biasa. Bahkan beberapa sekolah (SMP dan SMA) tidak lagi menghiraukan cara berpakaian siswanya. Pergaulan antara siswa perempuan dan laki-laki sudah tak ada bedanya jika bergaul dengan sesama jenis. Hal ini pun kurang menjadi kepedulian guru dan orangtua. Jika hal ini tidak ada penanggulangannya, maka dapat dipredikasi bahwa prilaku-prilaku mesum akan semakin sering terjadi pada anak-anak kita, dan yang paling dirugikan jika hal itu terjadi adalah wanitanya.

Salah satu yang kita yakini dalam Islam adalah bahwa wanita adalah tiang negara. Jika wanita baik, maka negara maju dan besar, tapi jika sebaliknya maka kita tinggal menunggu kehancuran bangsa ini. Wanita adalah calon-calon ibu yang akan melahirkan anak-anak bangsa penerus estafet pembangunan bangsa. Anak-anak yang lahir dari rahim ibu diharapkan menjadi kebanggaan keluarga, bangsa, dan agama. Oleh karena itu, wanita harus mempersiapkan diri menjadi ibu yang baik. Seorang ibu harus mempunyai sikap dan prilaku keibuan. Ibu adalah seorang yang halus perasaannya, tenggang rasa dan belas asih, serta menjaga keluarganya terutama anak-anaknya dari pengaruh yang buruk. Ibu juga harus cerdas dan mempunyai kepekaan terhadap permasalahan yang terjadi, namun tidak berarti ibu mengambil alih hak dan kewajiban ayah. Pengorbanan seorang ibu jangan dianggap suatu ketidakadilan, karena Allah telah menjanjikan balasan yang tiada taranya yakni surga.

Begitu mulianya seorang ibu, sehingga persiapannya juga harus dengan cara-cara yang baik. Cita-cita untuk menjadi seorang ibu harus diusahakan sejak dini. Mulailah dengan menjaga diri kita dari prilaku-prilaku tercela dan berusahalah untuk melakukan hal-hal yang positif dan sesuai dengan etika agama. Pikirkan baik-baik tindakan kita dalam bergaul, karena jelas pergaulan bebas tidak menghasilkan hal yang baik. Wanita dan laki-laki yang bergaul secara bebas dapat saja berujung ke hal yang memalukan terutama sekali pada wanitanya sebagai calon ibu tadi. Mengapa kita masih meragukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang jelas-jelas akan memberi keselamatan tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Mulailah dari sekarang, jangan ditunda-tunda lagi, bercita-citalah menjadi seorang ibu.

Kondrat seorang ibu adalah melahirkan anak-anaknya. Suatu kebanggaan wanita yang menjadi seorang ibu jika dapat menghadirkan anak di dalam keluarganya. Ibu yang terbentuk dari wanita-wanita yang telah terjaga cita-citanya menjadi seorang ibu sejak dini tentu mempunyai kemampuan dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi penerus yang baik. Seorang ibu adalah pendidik yang pertama dan utama, sehingga menjadi seorang ibu bukan suatu hal yang sepele. Tidak cukup hanya karena si wanita telah berusia cukup untuk menikah, maka jadilah dia seorang ibu setelah dia melahirkan seorang anak. Ibu tidak hanya sampai mampu melahirkan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengasuh dan mendidik anak yang lahir dari rahimnya itu menjadi anak penuh dengan potensi, baik itu fisik maupun spikis. Ibu adalah perempuan/wanita yang sesungguhnya, sehingga menjadi seorang ibu harus menjadi cita-cita wanita. Kemuliaan seorang ibu tidak hanya kita sebagai manusia mengakuinya, dengan mengandung sekitar sembilan bulan, lalu melahirkan anaknya dengan penderitaan yang teramat sangat, selanjutnya masih ditugaskan mendidik anak tersebut, seorang ibu juga mulia di hadapan Allah SWT, Tuhan yang mempunyai seluruh kemuliaan. Selamat Hari Ibu....

TKA-TPA Sebagai Gerakan Dini Reformasi Etika Bangsa

Minggu, 21 Desember 2008 0 komentar


Indonesia merupakan bangsa yang berbudaya, bukan hanya karena memiliki keragaman suku bangsa dan budaya, namun berbudaya juga diartikan sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Penghargaan terhadap etika dalam berprilaku setiap anak bangsa sebenarnya tidak hanya sebagai jargon belaka dan diajarkan di sekolah-sekolah dalam konsep teoritis, tetapi harus nampak pada prilaku bangsa ini secara keseluruhan. Tapi, kondisi saat ini hampir sulit menyaksikan suasana yang betul-betul menjunjung tinggi etika. Kita melihat, mendengar, dan membaca berbagai peristiwa yang terjadi di republic ini melalui media cetak dan elektronik sangat bertolak belakang dengan penghargaan kita kepada etika. Berbagai prilaku sadis, keji, dan tidak berprikemanusiaan dipertontonkan secara gamblang kepada kita, bahkan di depan anak-anak kita.

Anak-anak sebagai cikal bakal penerus bangsa ini telah “dirasuki” kepribadian “kanibal” yang sulit untuk dibayangkan bagaimana jadinya jika mereka-mereka telah menerima tongkat estafet pembangunan bangsa ini. Kepribadian yang tidak mengenal belas kasih dan menghalalkan segala cara akan tumbuh bersemi pada generasi penerus kita. Anak-anak kita hampir telah kehilangan panutan dalam mengarungi bahtera hidup ini. Orang yang semestinya memberikan teladan bagi generasi penerus justru menjadi “biang” terkontaminasinya kepribadian anak menjadi pribadi-pribadi yang tidak beretika. Guru-guru di sekolah juga mulai jenuh dengan upaya keras mereka dalam mendidik etika siswanya tapi menuai hasil yang sangat minim. Konsep etika yang diberikannya ternyata “kalah” dengan realita di lapangan. Masih lekat dalam ingatan kita, beberapa wakil rakyat saling adu jotos di gedung DPR sana, saling ejek antarmereka sudah sangat biasa, terjadinya kasus pornoaksi dan pelecehan seksual, dan terakhir beberapa di antaranya pula telah masuk bui karena kasus korupsi. Belum lagi perkelahian yang menjurus pada saling bunuh antarwarga kampung tetangga karena urusan sepele. Mahasiswa yang dikenal kaum cendekia saja menyelesaikan suatu masalah dengan genggaman batu dan parang. Jadi siapa lagi yang menjadi panutan dalam beretika anak-anak kita sekarang?

Manusia memang tak luput dari kesalahan, bahkan kesalahan yang diperbuat manusia tersebut dapat saja menjatuhkan derajatnya sebagai khalifah (pemimpin) di dunia ini lebih rendah dari binatang sekalipun. Tuhan sebagai khalik manusia telah menurunkan agama sebagai awal dan akhir manusia dalam berprilaku di muka bumi ini. Oleh karena itu, kekisruhan etika yang kita rasakan sekarang khususnya di negara kita ini tak lain dan tak bukan karena kita telah melupakan agama. Pengaturan yang telah dituntunkan Tuhan tentu merupakan aturan yang sempurna. Back to Basic manusia harus segera di tempuh. Kita harus kembali pada Tuhan dengan ajaran-ajarannya melalui agama. Islam sebagai agama mayoritas di negeri ini tentu tidak hanya diperlukan jumlah penganutnya yang besar, tetapi yang lebih penting adalah kualitas keIslaman kita. Islam harus dibawa kemanapun kita berada. Islam bukanlah monoton pada ibadah ritual belaka, tetapi menyangkut semua aspek hidup dan kehidupan manusia lengkap diatur dan dituntun oleh Agama Islam. Untuk itu, demi mengurangi dan membentengi anak-anak kita terhadap ”kekisruhan etika” saat ini, perlu menuntun mereka segera ke agama.

Pendidikan keagamaan memang seharusnya pada masa kanak-kanak, bahkan ajaran Islam lebih awal lagi yakni pada masa konsepsi dan menyiapkan calon pasangan harus telah melalui tuntunan agama. Pendidikan keagamaan di sekolah sejak lama dirasa sangat kurang, oleh karena itu muncul konsep pengintegrasian nilai-nilai Imtaq terhadap materi ajar di sekolah. Hal ini pun dirasa kurang berhasil karena waktu anak lebih banyak di rumah tangga dan masyarakat. Oleh karena itu tanggungjawab orangtua harus lebih utama dalam membentuk kepribadian anak melalui etika agama. Permasalahan kembali muncul dengan alasan aktifitas dan kesibukan orangtua yang hampir tiada henti selama 24 jam sehari. Kendala-kendala inilah yang mengharuskan kita mempunyai alternatif pemecahan masalah etika anak jika kita serius ingin melihat buah hati kita berhasil kelak dengan tetap memiliki etika yang baik.

Sejak lebih 20 tahun terakhir sebenarnya di negeri kita muncul suatu aktifitas anak yang dapat diartikan sebagai gerakan dini reformasi etika. Taman Kanak-kanak Al Qur’an dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TKA-TPA) telah menjamur di negeri ini sampai ke pelosok-pelosok. Suatu institusi pendidikan keagamaan untuk anak-anak usia TK dan SD yang serius menggali nilai-nilai Agama Islam untuk dijadikan konsep dan praktik dalam beretika. Pendidikan Al Qur’an sebagai inti kurikulumnya merupakan dasar umat Islam. Aturan dan tuntunan Islam lengkap di Al Qur’an sebagai Kitab Suci yang terjaga kemurniannya sampai akhir dunia. Selain itu, pendalaman terhadap prilaku sehari-hari yang sesuai ajaran Islam telah diperkenalkan dan diamalkan dalam institusi ini. Kurikulum yang lengkap serta pendidiknya yang dikenal dengan Ustadz-Ustdzah yang kredibel baik ilmu agama teoritis maupun kepribadian dalam prakteknya, merupakan alasan kita untuk meyakini institusi ini Insya Allah dapat menjadi pemberi ”benteng” kepada anak-anak kita. Hubungan psikologis dan emosional antara santri (siswa di TKA-TPA) dengan Ustadz-ustadzahnya adalah salah satu nilai tambah yang sangat besar artinya dalam ”mendarahdagingkan” nilai-nilai agama pada jiwa dan raga generasi penerus bangsa tersebut.

Bagaimana dengan hasil yang telah ditelorkan oleh TKA-TPA selama ini? TKA-TPA merupakan alternatif pendidikan keagamaan yang berusaha memenuhi kebutuhan orangtua-orangtua peduli terhadap etika anak-anaknya kelak. Orangtua-orangtua yang sedikit khawatir terhadap dirinya kelak di akhirat karena disebabkan kurangnya perhatian mereka terhadap pendidikan agama anaknya. Oleh karena itu hasil yang diberikan oleh TKA-TPA tentu tidak fair jika dibandingkan dengan pesantren. Anak kita mampu menghormati orang yang lebih tua, bertutur kata yang baik, berusaha menjalankan perintah agama, dan terkhusus mampu membaca Al Qur’an dengan baik, adalah contoh hasil dari TKA-TPA yang maksimal. Pada Kondisi saat ini, jika anak kita telah mampu berbuat yang demikian, maka kita sebagai orangtua tentu sangat berbesar hati dan bersyukur. Untuk itu, semua lapisan masyarakat (tidak hanya orangtua santri) harus memiliki perhatian serius terhadap perkembangan lembaga ini. Perhatian pemerintah termasuk pemerintah daerah terhadap institusi yang mereformasi etika ini, merupakan kendala paling utama dalam pengembangannya. Standar ganda yang diterapkan pemerintah sungguh membuat institusi potensial ini sangat lamban perkembangannya. Secara teoritis dan jargon, pemerintah terus menyuarakan pentingnya mengedepankan agama dan etika dalam berprilaku, tetapi pada aplikasinya terjadi hal yang sebaliknya. Selain cara-cara yang bukan tuntunan agama dan tidak beretika tetap dijalankan, juga perhatian terhadap institusi semacam TKA-TPA yang akan mendukung teori dan jargonnnya tadi, kurang diperhatikan.

Jika kita (pemerintah dan rakyat) sepakat menjadikan agama sebagai hal yang krusial dalam pembangunan bangsa ini, maka sangatlah mudah memberikan anggaran yang lebih untuk aktifitas semacam TKA-TPA. Penganggaran APBN dan APBD untuk hal yang real demi etika bangsa ini sungguh sangat wajar dan harus untuk direalisasikan. Kesejahteraan bagi pengurus dan tim pendidik di TKA-TPA merupakan kewajiban bagi pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memenuhinya. Hal ini juga merupakan bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap pentingnya agama dan etika pada kondisi masyarakat yang semakin ”brutal” Etika juga harus direformasi, dan TKA-TPA merupakan sarana untuk mereformasi etika bangsa ini sejak dini. SEKIAN.

POLICY KONTRA PRODUKTIF

Jumat, 19 Desember 2008 0 komentar


Menempatkan sesuatu pada porsinya merupakan tindakan yang bijak. Tindakan yang akan dilakukan haruslah dipikirkan sebelum melakukan policy atau kebijakan tersebut. Seringkali kita bermaksud baik ternyata ditanggapi salah oleh objek policy kita, ataukah maksud kita untuk merubah sesuatu kearah yang lebih positif dan normative, ternyata hasil yang kita “panen” justru sebaliknya. Oleh karena itu sebelum melakukan tindakan atau kebijakan jika kita seorang pemimpin harus memikirkan matang-matang baik dan buruknya, positif negatifnya. Tentu kita tidak harus mundur pada suatu niat baik meskipun menerima tantangan, tapi kita tinggal melakukan upaya-upaya rekonstruksi kebijakan, sehingga dukungan yang kita terima jauh lebih banyak dibanding tantangan. Kebijakan yang baik tidak harus tanpa tantangan, tetapi bagaimana kita lebih bijak meminimalisir tantangan tersebut.

Alam demokrasi yang saat ini semakin terasa di republic kita tentu tidak hanya kita rasakan saja, tetapi dibutuhkan ketundukan kita dalam melakukan aktifitas yang bernuansa demokratis. Seorang kepala rumah tangga saja, jika dia bijak dalam menerapkan policy bagi anak istrinya tentu terlebih dahulu dimusyawarahkan. Usul dan saran anggota rumah tangga harus menjadi pertimbangan dalam menerapkan kebijakan yang bersentuhan langsung dengan mereka. Kepala rumah tangga yang cerdas harus mampu meyakinkan anggota rumah tangganya bahwa policy yang akan diterapkan baik dan demi kepentingan seisi rumah. Bukan masanya lagi kepala rumah tangga bertindak otoriter pada keluarganya. Otoriter tidak hanya berarti secara pisik saja, tetapi juga dalam hal kebijakan-kebijakan, bahkan meski kebijakan itu positif adanya.

Hal serupa juga diterapkan di sekolah atau di dalam kelas. Saat ini, guru dianjurkan untuk melakukan curah pendapat tentang proses pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan siswanya. Guru tidak boleh hanya memberikan materi kepada siswa dengan teknik atau cara yang dimaui oleh guru sendiri, karena hal ini tentu akan ”mengkerdilkan” kreativitas siswa. Gagasan atau ide terhadap proses pembelajaran baik itu keseluruhan maupun per bagiannya yang datang dari siswa, menjadi bahan pelengkap bagi guru dalam memformulasikan teknik yang akan dilaksanakan sehingga dapat berhasil. Kerelaan guru dalam menerima masukan-masukan dari siswa dapat pula dijadikan suatu ”tekanan” pada siswa untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Bahkan, pemberian nilai kepada siswa sekalipun tidak boleh terkesan secara subjektif. Siswa harus tahu dan paham alasan dan kriteria penilaian guru terhadap diri dan hasil evaluasinya.

Policy terhadap suatu hal akan lebih banyak menerima tanggapan pro dan kontra jika menyangkut publik atau banyak orang. Makin banyak orang yang terimbas oleh suatu policy, maka semakin banyak kepribadian yang berbeda menanggapi policy tersebut. Kecenderungan seseorang untuk pro atau kontra suatu policy terbagi 3 macam golongan. Golongan pertama adalah orang-orang yang menantang policy karena merugikan dirinya dan menerima policy karena menguntungkan pribadinya. Golongan kedua adalah orang-orang yang menantang suatu policy karena memang policy tersebut tidak positif meskipun itu menguntungkan dirinya, dan menerima policy karena dirasa positif untuk banyak orang meskipun itu merugikan dirinya. Golongan ketiga, selalu mendukung policy karena keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri atau mempunyai keinginan khusus kepada sang pencetus policy.

Pemimpin tentu tak lepas dari policy terhadap orang yang dipimpinnya (kata ”bawahan” tidak dipakai lagi untuk orang yang kita pimpin). Policy sebagaimana yang dijelaskan adalah untuk mengatur ke arah yang positif dan bermanfaat bagi orang-orang yang dipimpinnya. Bukan zamannya lagi policy seorang pemimpin hanya untuk memperlihatkan kekuatannya, sehingga yang di bawahnya tidak berani untuk memberikan tantangan terhadap policy yang diterapkan kepadanya. Tidaklah elegan seorang pemimpin untuk menerapkan suatu policy tanpa menanyakan kesiapan objek policy tersebut, meskipun policy tersebut terang-terangan akan berdampak positif bagi mereka. Penghargaan terhadap objek policy dengan mendengarkan mereka terhadap rencana policy tersebut, akan berdampak positif terhadap penerimaan policy yang akan diterapkan dan tidak menimbulkan kontra produktif. Pemimpin yang hanya melihat kesalahan orang yang dipimpinnya terlebih lagi jika kesalahan itu diekspos di depan umum adalah termasuk dalam policy yang akan berdampak kontra produktif. Begitu pula jika suatu policy dilaksanakan dengan secara tiba-tiba meskipun policy itu bermaksud positif, juga dapat bernasib sama yakni kontra produktif.

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menerapkan suatu policy yang menyangkut banyak orang sehingga policy tersebut dapat berjalan dengan baik, antara lain:
1. Policy yang akan dilaksanakan bukan dadakan tetapi harus melalui tahapan perencanaan dan pertimbangan yang cukup matang. Seorang pemimpin haruslah mempunyai renstra (rencana Strategis) serta program kerja yang akan dilakukan selama kurun waktu tertentu. Renstra dan Program dibuat untuk dilaksanakan agar gerak langkah dalam memimpin terarah pada tujuan.
2. Policy yang telah matang pada diri kita (pelaksana policy/pemimpin) harus didiskusikan dengan orang-orang yang berkompeten terhadap masalah yang berhubungan dengan policy tersebut.
3. Hasil dari diskusi tersebut, harus disosialisasikan kepada objek policy tadi sehingga pertanyaan dan masukan dapat pula ditampung untuk dijadikan bahan pertimbangan atau sebagai penyempurna policy. Bagian ini adalah sangat penting karena disinilah kita dapat mempredikasi pro dan kontra suatu policy yang akan dilaksanakan. Pada bagian ini pula pencetus policy dapat meyakinkan atas manfaat yang diperoleh dalam melaksanakan policy yang akan diterapkan.
4. Pelaksanaan policy jangan sampai terjadi perbedaan dengan yang telah disepakati, apalagi berbeda dengan yang telah disosialisasikan.
5. Follow Up Policy. Ini penting dilaksanakan juga, agar tidak terjadi anggapan policy yang telah dilaksanakan tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Sebaiknya policy yang satu dengan yang lainnya ada hubungan yang saling mendukung sehingga tidak terkesan policy-policy yang kita lakukan hanya asal ”comot” saja.

Kelima saran di atas dalam menerapkan suatu policy yang akan ”dilempar” seorang pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya tentu saja pelaksanaannya sangat tergantung kepada kepribadian sang pimpinan. Pemimpin yang baik tentulah harus dapat mendengar, melihat, dan juga merasakan apa-apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan orang-orang yang dipimpinnya, sehingga policy yang akan dilakukan tak lain dan tak bukan hanya untuk menjadikan orang yang kita pimpin lebih baik. Sebagai pemimpin, tentunya tidak mengharapkan policy yang diterapkan kontra produktif, yang akan menyita waktu dan tenaga serta mungkin pendanaan yang cukup banyak. Menyerap aspirasi dari bawah justru merupakan usaha elegan dalam merancang suatu policy. Selamat menjadi pemimpin yang baik, pemimpin yang dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya. SEKIAN.

MENGUKUR MUTU GURU

Rabu, 17 Desember 2008 0 komentar


Apa yang terbetik dalam pikiran kita jika mendengar atau membaca kata “Guru”? Tentu kita akan menjawab sejauh mana ukuran atau pandangan kita terhadap guru. Jika kita adalah orangtua siswa, maka kemungkinan besar kita terpikirkan tentang orang yang telah memberi anak kita ilmu pengetahuan dan keterampilan. Jika kita seorang polisi, maka mungkin akan teringat seorang guru yang pernah dilaporkan oleh orangtua siswa karena telah ”menganiaya” anaknya. Jika kita seorang PNS Non Guru, mungkin akan berpikir bahwa profesi yang memang harus mendapatkan kenaikan gaji lebih karena tugas dan tanggungjawabnya begitu berat.

Tentu ukuran-ukuran terhadap guru di atas sangat subjektif. Belum lagi jika kita mengukurnya atas apa yang pernah kita (sendiri) alami yang bersentuhan dengan guru. Jika itu pengalaman pahit, maka buruklah ukuran kita terhadap guru. Tapi jika manis, maka baik pula penilaian kita terhadap ”pahlawan pencetak manusia cendekia” ini (sekarang bukan lagi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa). Kita sebenarnya bebas saja mengukur dan menilai guru sesuai kriteria atau alat ukur yang kita pakai. Namun, tentu saja dibutuhkan kearifan dan mungkin penilaian objektif tentang guru. Mengapa? Jangan sampai pengukuran atau penilaian terhadap guru tersebut hanya didasari oleh satu alat ukur saja, padahal kita telah menggenalisir guru, baik itu guru secara person, maupun guru secara institusi.

Penilaian terhadap guru yang paling sering dibicarakan dan dipermasalahkan adalah mengenai mutu guru. Guru tidak akan pernah lepas dari tuntutan mutu. Guru adalah profesi yang mencetak manusia cendekia bangsa ini, oleh karena itu mutu atau kualitas guru tak boleh ditawar-tawar lagi. Begitu banyak program pemerintah yang ditujukan demi terus meningkatkan mutu guru. Guru harus pintar karena mereka mendidik dan mengajar, salah satu tujuannya adalah mencetak generasi yang pintar. Ukuran guru yang bermutu tentu saja tidak sekedar harus menguasai materi yang diajarkan, tetapi lebih dari itu. Didaktik dan metodik (proses pembelajaran) harus pula diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Belum lagi jika kita juga mengukur prilaku dan sikap guru, karena guru harus menjadi teladan bagi siswanya. Oleh karena itu, tidaklah bijaksana jika kita menilai guru bermutu atau tidak hanya dengan mengukur satu sisi dari sekian banyak unsur ”pembangun” seorang guru. Termasuk suatu hal yang keliru jika kita berpendapat bahwa guru tidak boleh kalah pintar dari siswanya. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa siswa tak akan lebih pintar dari gurunya dan menutup kesempatannya untuk lebih pintar dari gurunya, padahal yang dianut oleh guru saat ini adalah jika mereka mampu mencetak siswa lebih pintar dari dirinya, maka dialah guru pintar sekaligus berkualitas. Contoh kasus, seperti juara Olympiade Fisika Internasional dari siswa Perguruan Athirah Makassar, tentu saja telah melebihi gurunya (khusus dalam hal Olympiade), karena sang guru belum pernah mengikuti Olympiade apatah lagi menjadi juara. Kemampuan siswa yang lebih dari gurunya tentu saja tidak membuat guru tersebut dicerca, tapi sebaliknya dia akan dipuji sebagai guru yang bermutu karena berhasil menelorkan siswa yang juara melebihi dirinya sendiri. Meskipun demikian, hal tersebut bukanlah sebagai alasan guru tidak lagi harus belajar. Justru dengan terbukanya peluang siswa lebih pintar dari gurunya, maka guru harus terus menambah wawasannya dengan belajar. Sama yang diajarkan oleh orangtua kita, bahwa jika orangtua kita berpangkat kolonel, maka anaknya diharapkan lebih dari pangkatnya. Siswa memang sepantasnya lebih pintar dari gurunya, mengapa? Siswa sebenarnya mempunyai dua otak, sedang gurunya hanya mempunyai satu otak. Otak pertama siswa adalah otaknya sendiri, dan yang kedua adalah otak gurunya.

Program sertifikasi guru yang dilaksanakan pemerintah saat ini saja, masih dirasa kurang untuk menjadi alat ukur penilaian kualitas guru, padahal unsur-unsur yang berusaha dinilai sudah sangat banyak (portofolio). Memberi guru evaluasi untuk menilai sejauh mana guru dapat menjawab soal-soal yang berkenaan dengan materi yang diajarkan adalah sesuatu yang positif dan merupakan salah satu bentuk upaya meningkatkan wawasan guru. Hal ini dapat menjadi pendorong guru untuk terus belajar, karena guru adalah dan harus menjadi manusia pembelajar. Program seperti ini juga akan membiasakan guru untuk dilatih menghadapi tantangan dan juga berkompetisi. Hal ini penting karena ke depan semakin ketat dihadapkan oleh semangat kompetisi, termasuk guru tidak boleh ketinggalan. Namun demikian, tentu hal ini bukan alat ukur yang tepat dalam menjastis bahwa jika guru dapat menjawab seluruh item soal dengan benar, maka guru itu telah menguasai materi yang diajarkan atau bahkan dikatakan bahwa guru itu berkualitas. Sedangkan, sebaliknya jika guru itu kurang benar dalam menjawab soal-soal terbatas tersebut maka dikatakan bahwa guru itu tidak menguasai materi atau lebih parah dicap sebagai guru tidak bermutu. Kurang bijak rasanya menilai guru bermutu atau tidak hanya karena tidak dapat menjawab satu dua soal, meskipun soal itu memang harus dikuasai. Mari kita mengambil perumpamaan sederhana: seberapa sering kita keliru atau salah pada suatu aktifitas yang tiap hari kita lakukan? Pernahkah kita alpa memakai jam tangan ke kantor? Pernahkan kita terjatuh pada tangga atau jalanan yang tiap hari kita lalui? Atau pernahkah kita alpa terhadap hitungan shalat yang kita sedang dirikan? Dan masih banyak lainnya.

Jadi, bagaimana mengukur mutu seorang guru? Inti seorang guru sebenarnya bukan pada orangnya, tapi lebih besar pada aktifitasnya. Sejauh mana dia gerakkan raga guru ini melakukan kegiatan atau aktifitas yang menampakkan identitas guru. Maka termasuk penilaian kurang elegan jika kita menilai kualitas guru dengan melihat nilai ujian siswanya. Jika hanya dengan mengukur nilai ujian siswa, guru dapat ditentukan berkualitas tidaknya, maka jangan salahkan guru jika melakukan aktifitas yang justru kurang menampakkan dirinya sebagai guru. Guru hanya ”menggelontorkan” soal-soal terus menerus kepada siswanya, karena alat ukurnya nanti adalah kemampuan siswa menjawab soal-soal ujian. Guru tidak akan mempunyai kreatifitas, inovasi, dan kepedulian terhadap etika siswanya.

Semua guru adalah orang pintar, tetapi tidak semua orang pintar adalah guru. Kepintaran guru adalah bagian dari penunjang kualitasnya. Kualitas guru haruslah diukur secara paripurna. Selain pintar (ilmu pengetahuan), guru harus beretika, guru harus menjadi teladan oleh siswanya dan lingkungannya, track record selama menjadi guru harus baik. Begitu banyak unsur yang harus dipenuhi barulah dikatakan berkualitas, sehingga kurang tepat seorang guru dinilai tidak bermutu hanya karena tidak memahami satu dua persoalan yang menjadi bahan materi ajarnya. Guru juga manusia, yang tentu tak luput dari kealpaan, seperti kita lazimnya manusia. Jika terdapat pilihan, maka akan lebih terukur jika menilai guru dari sisi etikanya. Jelas guru yang mempunyai etika yang tidak normatif adalah guru yang tidak berkualitas karena guru itu digugu dan ditiru (teladan). Seperti halnya, pengakuan semua orang bahwa para pejabat dan yang mempunyai gelar keilmuan tinggi tapi terhukum kasus korupsi yang sekarang banyak terjadi di Republik ini, merupakan orang-orang yang tidak bermutu. Renungkanlah... Sekian.

MENGGAGAS KOMUNITAS ON LINE GURU SUL-SEL

Rabu, 10 Desember 2008 0 komentar


Guru sebagai suatu komunitas intelektual harus menjadi pionir terhadap perubahan ke arah yang lebih maju. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin ‘hebat” ini, guru dituntut untuk menggenjot segala kemampuannya agar tidak menjadi “macan ompong”. Predikat guru adalah merupakan suatu profesi yang mempunyai keunggulan dibanding profesi lainnya. Guru identik dengan keserbabisaan terhadap apapun yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, meskipun juga diakui bahwa guru juga manusia biasa yang mempunyai banyak kelemahan dan ketidakmampuan, bukanlah berarti guru hanya diam berpangku tangan dan statis dalam peningkatan kemampuannya. Sangatlah disayangkan jika seorang guru yang telah menjalankan profesinya selama bertahun-tahun mempunyai kemampuan sama pada saat awal dia menjadi guru.

Mengasah kemampuan agar lebih meningkat tentu saja berbagai macam cara. Terkhusus pada guru, pemberian diklat dan semacamnya adalah suatu bentuk peningkatan kemampuan yang signifikan dapat terjadi. Namun demikian, banyak pula bentuk-bentuk atau kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh guru dalam meningkatkan kemampuannya. Sharing terhadap pengalaman sesama guru juga sangat urgen untuk diadakan. Hal ini tentu saja sangat positif, karena guru akan tahun kiat-kiat rekan guru lainnya dalam menunaikan tugasnya sebagai profesi, baik itu secara khusus dalam pembelajaran maupun yang lebih luas. Selain itu nilai psikologisnya akan mempengaruhi kesamaan profesi yang dapat berujung pada keinginan untuk lebih meningkatkan kemampuan sebagai guru.

Komunitas guru selain merupakan profesi yang mempunyai kualitas lebih, juga dari segi kuantitas tak kalah. Jumlah guru yang sangat banyak (meskipun rasionya masih kurang) tentu merupakan pertimbangan dalam merealisasikan suatu bentuk sharing pengalaman atau silaturrahim antarguru. Tentu jika kita berpikir dunia nyata, maka sulit direalisasikan, tetapi jika kita arahkan pada dunia maya, maka gagasan ini mudah untuk dinyatakan. Komunitas on line guru melalui internet perlu dipikirkan untuk digagas realisasinya. Hal ini bukanlah pemikiran yang muluk-muluk tetapi suatu keniscayaan yang sebenarnya hampir menjadi keharusan untuk kita adakan.

Komunitas guru secara on line sebenarnya bukanlah hal yang baru di republik ini. Dari pantauan di dunia maya (internet) ada beberapa komunitas semacam ini yang telah eksis dan masih berkisar di Jawa. Sebut saja klub guru yang pengelolaannya sangat profesional. Profesional dalam arti tampilan yang luarbiasa serta materi yang berimbang. Selain itu, yang lebih sederhana adalah grup e-mail atau blog khusus guru. Namun, lagi-lagi masih di luar Sulawesi komunitasnya, meskipun dari mana saja dapat berpartisipasi dalam komunitas tersebut. Kemana guru-guru Sulawesi Selatan yang dikenal juga “kedigjayaannya” sampai di luar sana? Kemana guru-guru Sul-Sel yang “jagoan” lomba pembelajaran dan semacamnya itu? Mengapa tidak dapat mendermakan sedikit kemampuannya untuk menggagas komunitas on line ini demi meningkatkan pula teman-teman guru di Sul-Sel khususnya. Bukankah kita tahu bahwa pohon tak berarti jika tak berbuah. Arti seorang manusia dinilai dari sejauh mana dia bermanfaat bagi sesamanya manusia. Salah satu yang dapat dijadikan contoh blog guru yakni http://www.msyukur.blogspot.com , blog guru ini sangat sederhana tetapi merupakan awal yang baik sebagai guru di Sul-Sel menjalin komunitas online.

Saat ini, PT Telkom gencar-gencarnya memperkenalkan akses internet cepat yang dikenal dengan nama speedy. Semacam menjemput bola, sebelum akses internet cepat itu mermbah sampai ke pelosok kita telah matang dengan komunitas on line tadi. Oleh karena itu, alasan yang berhubungan dengan sarana dan prasarana untuk menggagas komunitas on line ini, janganlah menjadi penghambat untuk memulainya. Meskipun ini merupakan gagasan dari bawah, bukan berarti pihak-pihak yang berada di atas tidak diperkenankan untuk membantu. Justru akan sangat berarti jika hal ini menjadi perhatian juga bagi penyelenggara kemajuan pendidikan di tingkat atas.

Sebenarnya ada bentuk perhatian pemerintah sebagai penanggungjawab maju mundurnya pendidikan di negeri ini, yang idenya hampir sama. Beberapa teman guru juga telah ikut dan merasakan komunitas tersebut, termasuk di Sul-Sel. KTI On-line yang diselenggarakan oleh PMPTK adalah bentuk komunitas on line yang hampir sejalan dengan gagasan ini. Hanya saja KTI On line hanya membahas tentang Karya Tulis Ilmiah, sehingga yang berminat hanya guru-guru yang intens terhadap KTI, itupun jika telah didaftar oleh Dinas Pendidikan setempat. Komunitas on line yang dibutuhkan guru-guru kita adalah yang mampu mendengarkan unek-unek mereka, keluh kesah mereka, dan segala macam cerita tentang mereka, termasuk proses pembelajaran yang mereka telah lakukan. Pokoknya semua hal yang berhubungan dengan guru dan lingkungannya dapat difasilitasi dalam komunitas on line tersebut.

Jika kita sebagai pemerhati pendidikan, baik itu pemerintah (Dinas Pendidikan), stake holder pendidikan, dan terutama para guru di Sulawesi Selatan ini mau dan bertekad bulat untuk merealisasikan gagasan peningkatan kemampuan lewat komunitas guru secara on line ini, maka tentu lebih mudah. Pemerintah provinsi Sul-Sel yang kita ketahui salah satu program andalannya adalah sektor pendidikan menyisikan dana untuk kontinyuitas pengelolaannya sekaligus sebagai pengawas kegiatan dan tentu saja akan lebih mudah kerjasamanya dengan pihak terkait seperti PT Telkom. Beberapa tenaga guru yang kredibel dijadikan pengelola web ataupun bentuk lainnya yang disepakati, sehingga komunitas ini betul dari guru, oleh guru, dan untuk guru.

Semoga tulisan ini menginspirasi banyak guru-guru dan pemerintah Sulawesi Selatan, sehingga mendapat tanggapan yang mengarah pada keinginan untuk merealisasikan gagasan ini. Manfaatnya tak perlu dipertanyakan lagi, karena sungguh luar bisa kualitas dan kuantitasnya, selain yang diungkap dalam tulisan ini. Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam merekalisasikannya, tetapi tentu saja bukan hal yang mustahil (apalagi gagasan ini tidak muluk-muluk), apalagi didukung oleh semua pihak yang memang seharusnya memberi dukungannya. SEKIAN

PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru

Minggu, 07 Desember 2008 0 komentar


Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka tak bisa ditawar keharusan untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama sekali yang bersentuhan langsung dengan kemajuan Iptek itu sendiri, yakni Pendidikan. Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan “mutasi” kearah yang positif demi mendukung sinergitas dengan kemajuan tadi. Pembelajaran di dalam kelas sebagai suatu sub system yang sangat penting dalam pendidikan tak ayal harus berbenah juga.

Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran gencar ditelorkan demi menghasilkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Salah satu yang sangat gencar diperkenalkan dan dilatihkan adalah Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (Pakem). Hakikat Pakem sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu Pakem sangat memperhatikan keinginan atau kegemaran anak, yakni bermain. Pembelajaran diolah sedemikian rupa sehingga terdapat unsur permainan di dalamnya. Mulai pembelajaran dalam bentuk lomba, kerjasama atau diskusi, sampai pembelajaran yang dilakukan di luar kelas.

Kemunculan Pakem sebenarnya disebabkan adanya indikasi bahwa siswa jenuh terhadap pembelajaran yang selama ini diterapkan. Pembelajaran yang monoton (tidak kreatif), hanya mendengarkan guru berceramah (pasif, tidak aktif), kurangnya transfer ilmu yang dapat bertahan lama pada siswa (tidak efektif), dan terakhir tentu saja sangat membosankan (tidak menyenangkan). Demikianlah nuansa pembelajaran yang kebanyakan dilakukan oleh guru selama ini. Pembelajaran yang demikian itu, yang selama ini banyak dilakukan, disebutlah sebagai pembelajaran konvensional.

Jika kita berbicara tentang pembelajaran yang konvensional, maka akan terasimilasi pada pembelajaran yang negatif, dalam arti sebaiknya tidak dilakukan lagi. Jika kita bertanya kepada seorang guru atas pilihannya antara Pakem dan pembelajaran yang konvensional tadi, maka dapat dipastikan jawabannya akan memilih Pakem, meskipun nyata-nyata dalam keseharian di sekolah, guru tersebut mempraktekkan pembelajaran yang konvensional tadi. Jika kita kembali menanyakan tentang ”keengganannya” mengaplikasikan Pakem, maka dapat saja dia mengatakan bahwa tanpa Pakem pun pembelajaran dapat terlaksana dan lebih mudah pelaksanaannya.

Bukan karena ketidaktahuan mereka terhadap aplikasi Pakem di kelas, tapi lebih disebabkan unsur mudah dan sukarnya pembelajaran itu diterapkan. Lalu, mengapa pembelajaran yang ”konvensional” tadi mudah diterapkan dan Pakem terasa sangat sulit untuk diaplikasikan? Sesuatu yang selalu atau berulang-ulang kita lakukan pastilah akan terasa mudah bagi kita untuk mengerjakannya. Hal ini pulalah yang terjadi pada pembelajaran yang dikatakan konvensional tadi. Hampir setiap hari guru melakukan pembelajaran dengan teknik dan metode yang begitu-begitu saja, maka terasa kemudahan dalam penerapannya. Sedangkan Pakem, mendengarnya saja mungkin ada di antara guru kita yang sudah membayangkan kesulitan yang dihadapi nantinya di kelas.

Jika kita kembali untuk mengamati secara lebih teliti pembelajaran yang selama ini menjadi kegandrungan guru dalam menerapkannya, maka akan membuat kita bertanya-tanya, dimana fungsi didaktik dan metodik yang selama ini kita sebagai guru telah fahami dalam pendidikan keguruan, karena tanpa unsur didaktik dan metodik sekalipun pembelajaran konvensional tadi dapat terlaksana. Jika demikian, pada akhirnya akan kita sepakati bahwa meski bukan seorang guru sekalipun pembelajaran yang konvensional tadi, akan dapat terlaksana. Lalu, dimana profesionalitas kita sebagai guru? Kemana kemampuan lebih kita dalam proses pembelajaran dibanding yang bukan guru? Apa hanya dengan memikirkan mudah dan sukarnya penerapan itu, kita korbankan identitas guru kita?

Mari kita tarik benang merah terhadap persoalan di atas. Bahan kita adalah, bahwa Pakem sebenarnya bukanlah pembelajaran yang benar-benar baru bagi guru. Sejak dalam penggodokan di sekolah keguruan kita telah menerima berbagai kiat dalam menggairahkan suasana kelas sehingga siswa belajar atas kemauannya sendiri dan pada akhirnya pengetahuan yang diperolehnya akan bertahan lama. Selain itu, guru tentu lebih banyak tahu teknik dalam menggairahkan siswa dalam proses pembelajaran. Hanya dengan sedikit berpikir (sesuatu yang harus selalu ada pada diri guru) mereka akan mampu menemukan sinkronisasi antara materi yang akan diajarkan dengan teknik yang menggairahkan siswa (Pakem). Lalu, bagaimana kita dapat menerima tantangan bahwa teknik konvensional tadi lebih mudah? Gampang! Jadikan Pakem menjadi pembelajaran yang konvensional, maka jadilah dia (Pakem) itu mudah dilaksanakan. Mulailah hari ini kita terapkan Pakem di kelas kita. Sulit? Bulatkan tekad kita untuk menjadi guru yang benar-benar guru, sehingga kesulitan yang memang biasa dialami jika awal kita melaksanakan tidak akan terasa. Esok hari dan seterusnya, Pakem menjadi pilihan utama kita dalam pembelajaran di kelas, maka jadilah Pakem sebagai pembelajaran yang Konvensional.

Pakem sebagai pembelajaran konvensional tentu saja tidak lagi terkesan negatif, justru akan lebih baik. Pakem dianggap oleh guru sebagai pembelajaran yang mudah direalisasikan dalam pembelajaran di kelas bahkan setiap hari sekalipun. Pakem sebenarnya meneguhkan identitas kita sebagai guru. Seorang guru harus mampu memilih atau berkreasi sendiri atas metode yang akan dilaksanakan sehingga proses trasfer pengetahuan berjalan dengan baik. Guru harus mampu memanfaatkan atau membuat sendiri peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran demi perhatian siswa dan lebih memudahkan konsep materi yang akan ditransfer. Guru harus mampu mengelola kelas agar bergairah dan menyenangkan siswa. Kesemua kemampuan itu tentu saja hanya dapat dipunyai dan diaplikasikan oleh seorang guru. Oleh karena itu mari kita mantapkan identitas kita sebagai guru dengan mengaplikasikan Pakem sebagai pembelajaran konvensional yang kita gandrungi. Sekian

 
SYUKUR SALMAN BLOG © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum